Ada nasihat yang kita dengar sekali, tetapi pengaruhnya bertahan seumur hidup. Begitulah wasiat-wasiat Rasulullah ﷺ kepada para sahabat. Kalimatnya singkat, namun menyentuh akar persoalan manusia: mengenal Allah dan menguatkan tauhid, cara menghadapi dosa, menjaga ibadah, memperlakukan orang lain, dan menata hati terhadap dunia.

Menariknya, Nabi ﷺ tidak selalu memberikan jawaban yang sama kepada setiap orang. Beliau mengetahui keadaan, kemampuan, dan kebutuhan para sahabat. Ada yang dinasihati agar tidak marah, ada yang diingatkan tentang hak tetangga, dan ada pula yang dibekali doa agar mampu beribadah dengan baik.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri; terasa berat olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap orang-orang beriman ia sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128)

Perbedaan nasihat ini mengajarkan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga memahami apa yang paling dibutuhkan oleh orang yang sedang dinasihati. Berikut beberapa wasiat Rasulullah ﷺ yang dapat menjadi bekal kehidupan kita.

Mengapa Wasiat Nabi kepada Para Sahabat Begitu Penting?

Para sahabat hidup dekat dengan Rasulullah ﷺ. Mereka menyaksikan penerapan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata dan menerima bimbingan langsung ketika menghadapi persoalan. Karena itu, wasiat Nabi kepada mereka bukan hanya catatan sejarah, melainkan pedoman untuk membentuk iman, ibadah, dan akhlak.

Kunci membaca wasiat Nabi: Jangan berhenti pada kekaguman terhadap indahnya nasihat. Tanyakan kepada diri sendiri: bagian mana yang paling saya butuhkan, dan amal apa yang dapat saya mulai hari ini?

1. Bertakwa kepada Allah di Mana Pun Berada

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987; dinilai hasan)

Wasiat ini disampaikan kepada 2 sabahat mulia Abu Dzar dan Muadz bin Jabal رضي الله عنهما diman wasiat tersebut merangkum tiga hubungan sekaligus: hubungan dengan Allah melalui takwa, hubungan dengan diri sendiri melalui taubat dan perbaikan, serta hubungan dengan sesama melalui akhlak mulia.

Takwa tidak hanya tampak ketika berada di masjid atau bersama orang saleh. Takwa justru diuji ketika kita sendirian, memegang telepon tanpa pengawasan, mengelola uang orang lain, atau memiliki kesempatan melakukan dosa tanpa diketahui manusia.

2. Jangan Berputus Asa Setelah Melakukan Kesalahan

Sabda Nabi ﷺ, “iringilah keburukan dengan kebaikan,” mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak berhenti pada penyesalan. Ia segera bertaubat, memperbaiki kerusakan, dan menambah amal saleh. Dosa tidak boleh diremehkan, tetapi dosa juga tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh dari Allah ﷻ.

  • Jika dosa dilakukan secara tersembunyi, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh secara tersembunyi.
  • Jika kesalahan menyangkut hak manusia, kembalikan haknya dan mintalah maaf dengan cara yang bijak.
  • Ikuti taubat dengan amal yang nyata: salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, atau membantu orang lain.

3. Dekat dengan Orang Lemah dan Melihat kepada yang di Bawah

Imam ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari Abu Dzar رضي الله عنه dia menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkannya dengan tujuh hal

بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ، وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي، وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي، وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ، وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا، وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا، وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

Beliau memerintahkan ku untuk mencintai orang-orang miskin, mendekati mereka, dan memerintahkanku melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, memerintahkanku menyambung silaturahmi meskipun diputus, memerintahkanku untuk tidak meminta minta kepada seorang pun, memerintahkanku untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit, tidak takut terhadap celaan dalam membela agama Allah, dan memperbanyak ucapan lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada daya untuk meninggalkan maksiat dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Nasihat untuk melihat kepada orang yang berada di bawah dalam urusan dunia bukan berarti merendahkan mereka. Tujuannya agar kita mengenali nikmat Allah dan tidak terus tersiksa oleh perbandingan. Di zaman media sosial, wasiat ini semakin terasa penting: jangan biarkan hidup orang lain yang terlihat sempurna membuat kita lupa mensyukuri kehidupan sendiri.

4. Jangan Meremehkan Kebaikan kepada Tetangga

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.” (HR. Muslim no. 2625)

Nabi ﷺ tidak mensyaratkan pemberian yang mahal. Sedikit kuah yang dibagikan dengan tulus dapat menjadi bukti kepedulian. Islam membangun masyarakat dari tindakan yang sederhana: mengenal keadaan tetangga, berbagi makanan, membantu ketika sakit, dan tidak mengganggu ketenangan mereka.

5. Memohon Pertolongan Allah agar Mampu Beribadah

Rasulullah ﷺ menggenggam tangan Muadz bin Jabal رضي الله عنه dan mengatakan bahwa beliau mencintainya. Kemudian beliau mengajarkan sebuah doa yang dibaca pada akhir setiap salat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522; sahih)

Doa ini mengingatkan bahwa kemampuan beribadah bukan semata-mata hasil kekuatan diri. Kita membutuhkan pertolongan Allah ﷻ untuk berzikir, bersyukur, dan mempersembahkan ibadah dengan benar. Karena itu, orang yang ingin menjaga istiqamah dalam beribadah tidak hanya membuat target, tetapi juga memperbanyak doa.

6. Menjaga Tiga Amalan Ringan tetapi Istiqamah

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata bahwa kekasihnya, Rasulullah ﷺ, mewasiatkan tiga perkara: berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Duha, dan melaksanakan Witir sebelum tidur.

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ: صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku mewasiatkan kepadaku tiga perkara...” (HR. Bukhari no. 1178 dan Muslim no. 721)

Ketiga amalan ini mengajarkan pola ibadah yang realistis. Tidak harus menunggu waktu lapang atau semangat besar. Pilih amalan yang mampu dijaga, lalu lakukan secara konsisten. Amal yang terus dijaga lebih kuat membentuk jiwa daripada ledakan semangat yang cepat menghilang.

7. Kendalikan Amarah Sebelum Ia Mengendalikan Kita

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah.” (HR. Bukhari no. 6116)

Seorang lelaki meminta wasiat kepada Nabi ﷺ. Beliau menjawab, “Jangan marah.” Ketika permintaan itu diulang, jawaban beliau tetap sama. Maksudnya bukan manusia tidak boleh memiliki perasaan marah, tetapi jangan mengikuti dorongan marah hingga berkata dan bertindak melampaui batas.

  • Diam ketika ucapan kita berpotensi melukai.
  • Menjauh sejenak dari sumber pertengkaran.
  • Berlindung kepada Allah dari setan.
  • Menunda keputusan penting sampai emosi mereda.

8. Jaga Lisan dan Jangan Menjadi Orang yang Suka Melaknat

أُوصِيكَ أَنْ لَا تَكُونَ لَعَّانًا

“Aku mewasiatkan kepadamu agar engkau tidak menjadi orang yang suka melaknat.” (HR. Ahmad; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Ucapan yang kasar sering dianggap ringan karena cepat berlalu. Padahal, satu kalimat dapat meninggalkan luka panjang. Seorang mukmin tidak membiasakan lisannya dengan laknat, hinaan, dan sumpah serapah—baik ketika berbicara langsung maupun ketika berkomentar di media sosial.

Dalam wasiat lain, Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak meremehkan kebaikan, meskipun hanya menampakkan wajah yang ramah kepada saudara. Islam tidak hanya mengatur kata-kata besar, tetapi juga ekspresi dan sikap kecil yang membuat orang lain merasa dihargai.

9. Miliki Rasa Malu kepada Allah

أُوصِيكَ أَنْ تَسْتَحْيِيَ مِنَ اللَّهِ كَمَا تَسْتَحْيِي مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ مِنْ قَوْمِكَ

“Aku mewasiatkan kepadamu agar engkau merasa malu kepada Allah sebagaimana engkau merasa malu kepada orang saleh dari kaummu.” (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Kita sering menjaga sikap ketika dilihat manusia, tetapi mudah lalai ketika sendirian. Rasa malu kepada Allah ﷻ menumbuhkan kesadaran bahwa tidak ada tempat yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya. Malu yang benar tidak membuat seseorang menjauh setelah berdosa; ia justru mendorongnya segera kembali dan memperbaiki diri.

10. Tutup Hari dengan Menyerahkan Diri kepada Allah

Nabi ﷺ mengajarkan kepada Al-Bara bin Azib رضي الله عنه doa sebelum tidur yang berisi penyerahan diri, pengharapan, dan rasa takut kepada Allah:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan urusanku kepada-Mu...” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidur adalah bentuk kelemahan manusia. Kita tidak mengetahui apakah masih diberi kesempatan bangun esok hari. Doa ini mengajarkan agar hari ditutup dengan tauhid dan tawakal, bukan dengan kecemasan yang tidak berujung.

11. Jadikan Dunia Sekadar Bekal Perjalanan

Salman Al-Farisi رضي الله عنه menangis menjelang wafat karena teringat pesan Rasulullah ﷺ agar bekal dunia seorang mukmin seperti bekal musafir. Ketika hartanya dihitung, nilainya hanya beberapa puluh dirham. Ia bukan menangis karena tidak memiliki dunia, tetapi karena takut membawa sesuatu melebihi kebutuhan perjalanan.

Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau menolak harta. Zuhud berarti dunia berada di tangan, bukan menguasai hati. Harta digunakan untuk ketaatan, keluarga, pendidikan, membantu sesama, dan mempersiapkan akhirat.

12. Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah ketika Terjadi Perselisihan

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib atas kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk. Peganglah dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676; sahih)

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa umat akan melihat banyak perselisihan. Jalan selamat bukan mengikuti setiap suara yang paling ramai, melainkan mengembalikan agama kepada Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman generasi terbaik. Berpegang pada Sunnah membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kerendahan hati untuk menerima kebenaran.

Benang Merah dari Wasiat-Wasiat Rasulullah

Jika diperhatikan, seluruh wasiat ini membangun seorang muslim secara utuh. Takwa menjaga hubungan dengan Allah. Taubat membersihkan kesalahan. Ibadah yang rutin menjaga hati. Akhlak dan kepedulian menjaga hubungan sosial. Sementara Al-Qur’an dan Sunnah menjadi kompas agar perjalanan tidak kehilangan arah.

Amal pekan ini: Pilih satu wasiat yang paling dekat dengan kebutuhan Anda. Tuliskan satu tindakan kecil, tentukan waktunya, dan jaga selama tujuh hari. Setelah itu, tambahkan satu wasiat berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa Nabi memberikan wasiat yang berbeda kepada para sahabat?

Karena keadaan dan kebutuhan setiap orang berbeda. Nabi ﷺ mengetahui nasihat yang paling bermanfaat bagi masing-masing sahabat. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi pendidik dan orang tua agar memahami keadaan orang yang dinasihati.

Wasiat Nabi manakah yang paling utama untuk diamalkan?

Semua nasihat Nabi mengandung kebaikan. Namun, mulailah dari kewajiban dan perkara yang paling dibutuhkan. Seseorang yang mudah marah dapat mendahulukan pengendalian emosi; orang yang lemah dalam ibadah dapat menjaga doa kepada Muadz dan amalan rutin.

Apakah wasiat kepada seorang sahabat juga berlaku bagi umat Islam?

Pada asalnya, nasihat yang tidak memiliki kekhususan berlaku umum dan dapat diamalkan oleh seluruh umat. Konteks penerima membantu kita memahami penekanan nasihat, tetapi manfaatnya tidak terbatas kepadanya.

Bagaimana cara istiqamah mengamalkan nasihat Rasulullah?

Mulailah sedikit, tentukan pemicu yang jelas, dan lakukan secara rutin. Jangan menunggu suasana hati. Mintalah pertolongan kepada Allah dan berada di lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kesimpulan

Wasiat Rasulullah kepada para sahabat menunjukkan luasnya kasih sayang dan kesempurnaan bimbingan beliau. Ada nasihat untuk hati, lisan, ibadah, keluarga, tetangga, hingga sikap ketika umat dilanda perselisihan.

Kita mungkin tidak mampu mengamalkan semuanya sekaligus. Namun, jangan biarkan banyaknya nasihat membuat kita tidak memulai satu pun. Pilihlah satu wasiat, pahami maknanya, lalu hadirkan dalam kehidupan. Nasihat Nabi ﷺ bukan hanya untuk dibaca dan dikagumi, tetapi untuk mengubah cara kita hidup.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.

← Kembali ke semua artikel