Saat melihat banyak orang berbuat dosa, pernahkah terlintas dalam hati, “Rusak sudah manusia zaman sekarang”? Barangkali kalimat itu muncul setelah membaca berita, melihat perilaku di media sosial, atau menyaksikan seseorang mengulangi kesalahan yang sama. Kita merasa sedih, kecewa, bahkan marah melihat kemaksiatan seolah dianggap biasa.

Namun, sebelum menilai seluruh manusia, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: apakah ucapan itu lahir dari kepedulian, atau diam-diam disertai perasaan bahwa kita lebih baik daripada mereka?

Sikap terhadap orang yang berbuat dosa tidak cukup diukur dari seberapa keras kita mengecam kesalahannya. Kita juga perlu menjaga hati agar tidak merendahkan, merasa paling suci, atau membuat seseorang kehilangan harapan untuk kembali kepada Allah. Menolak dosa dan menginginkan kebaikan bagi pelakunya bukanlah dua hal yang bertentangan.

Hadis tentang Ucapan “Binasalah Manusia”

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

“Apabila seseorang berkata, ‘Binasalah manusia,’ maka dialah yang paling binasa di antara mereka.” HR. Muslim, nomor 2623.

Hadis ini mengajak kita memeriksa ucapan yang tampaknya sedang membela kebaikan. Seseorang bisa sibuk menunjukkan kerusakan orang lain, tetapi tidak menyadari bahwa dalam dirinya sedang tumbuh kesombongan.

Dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa celaan tersebut ditujukan kepada orang yang mengucapkannya untuk merendahkan manusia dan mengunggulkan dirinya. Beliau menyebut:

«عَلَى سَبِيلِ الْإِزْرَاءِ عَلَى النَّاسِ، وَاحْتِقَارِهِمْ، وَتَفْضِيلِ نَفْسِهِ عَلَيْهِمْ»

“Dengan maksud mencela manusia, merendahkan mereka, dan menganggap dirinya lebih utama daripada mereka.” Syarah an-Nawawi, bab larangan mengucapkan “Binasalah manusia”.

Jadi, perhatian kita tidak boleh berhenti pada kesalahan yang terlihat di luar. Kita juga perlu bertanya tentang keadaan hati ketika membicarakannya. Apakah kita benar-benar ingin orang itu bertobat, atau justru menikmati kedudukan sebagai orang yang merasa tidak memiliki kesalahan serupa?

Sedih Melihat Kemaksiatan Berbeda dengan Merendahkan Manusia

Kesedihan yang Mendorong Perbaikan

Imam an-Nawawi membedakan sikap merendahkan dari kesedihan atas kekurangan agama yang terlihat pada diri sendiri dan orang lain. Beliau menjelaskan bahwa ungkapan yang lahir dari kesedihan seperti itu tidak termasuk celaan tadi. Penjelasan tersebut juga beliau nisbatkan kepada Imam Malik. Syarah an-Nawawi atas hadis Muslim 2623.

Perhatikan bahwa muhasabah itu juga mencakup diri sendiri. Orang yang peduli terhadap agama tidak hanya mengatakan, “Mereka harus berubah.” Ia juga memikirkan kewajibannya, keteladanannya, dan apa yang dapat dilakukannya untuk membantu perbaikan.

Misalnya, ketika melihat anak-anak mulai terbiasa berkata kasar, kita dapat mengajak mereka memperbaiki ucapan sambil memeriksa bahasa yang digunakan orang dewasa di rumah. Ketika mengeluhkan sedikitnya orang yang hadir dalam kegiatan kebaikan, kita dapat mengevaluasi cara mengajak dan kemudahan yang sudah diberikan.

Hindari Menyamaratakan Semua Orang

Kalimat seperti “Semua orang sekarang tidak bisa dipercaya” atau “Generasi ini sudah tidak punya harapan” menutup ruang untuk melihat kenyataan secara adil. Kita mungkin baru menyaksikan beberapa kejadian, lalu menarik kesimpulan tentang orang-orang yang tidak kita kenal.

Lebih baik sebutkan persoalannya secara jelas: “Kita perlu lebih serius mengatasi kebiasaan berdusta,” atau “Sebagian anak membutuhkan pendampingan agar tidak terbiasa berkata kasar.” Bahasa yang lebih tepat membantu kita menentukan langkah perbaikan, bukan sekadar melampiaskan kekecewaan.

Jangan Sampai Ketaatan Membuat Kita Merasa Paling Suci

Ketaatan adalah nikmat yang seharusnya melahirkan rasa syukur. Ketika Allah memudahkan kita menjaga shalat, belajar agama, atau meninggalkan suatu dosa, kemudahan itu bukan alasan untuk memandang orang lain dengan hina.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” Petikan QS. An-Najm: 32.

Kita mengetahui sebagian perbuatan seseorang, tetapi tidak mengetahui seluruh perjalanan hidupnya. Kita tidak mengetahui semua penyesalannya, usahanya melawan kebiasaan buruk, atau bagaimana akhir kehidupannya. Keterbatasan pengetahuan ini seharusnya membuat kita berhati-hati, bukan membuat kita membenarkan dosanya.

Rasulullah ﷺ menjelaskan kesombongan dengan sabda beliau:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” HR. Muslim, nomor 91.

Karena itu, jauhnya seseorang dari satu bentuk maksiat tidak menjadikannya bebas dari semua bahaya. Lisan yang tidak berdusta masih perlu dijaga dari penghinaan. Ilmu yang bertambah masih perlu diiringi kerendahan hati. Kita sama-sama membutuhkan bimbingan dan ampunan Allah.

Menolak Dosa Tidak Berarti Menghina Pelakunya

Ajakan untuk tidak menghakimi perlu dipahami dengan tepat. Kita tetap dapat menjelaskan bahwa suatu perbuatan dilarang berdasarkan dalil. Yang harus dihindari adalah penghinaan, merasa pasti lebih baik, atau memastikan nasib akhir seseorang tanpa dasar yang benar.

Mengatakan, “Perbuatan ini salah dan perlu dihentikan,” berbeda dari mengatakan, “Kamu memang manusia rusak dan tidak mungkin berubah.” Kalimat pertama menunjukkan kesalahan yang perlu diperbaiki. Kalimat kedua seolah menjadikan kesalahan sebagai identitas yang tidak bisa dilepaskan.

Teladan Nabi dalam Memperlakukan Orang yang Bersalah

Dalam riwayat al-Bukhari, seseorang dibawa kepada Nabi ﷺ dalam keadaan mabuk, lalu dihukum atas perbuatannya. Setelah orang itu pergi, seseorang mengucapkan doa buruk agar Allah menghinakannya. Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ

“Janganlah kalian menjadi penolong setan dalam mencelakakan saudara kalian.” HR. Al-Bukhari, nomor 6781.

Dalam peristiwa ini, kesalahan tidak dibiarkan. Namun, penghinaan terhadap orang yang bersalah juga tidak dibenarkan. Nabi ﷺ tetap menyebutnya sebagai saudara mereka. Kita belajar bahwa ketegasan dan kepedulian dapat berjalan bersama.

Teladan ini bukan pembenaran untuk main hakim sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu bertindak sesuai tanggung jawab dan kewenangan. Jika ada korban atau bahaya, keselamatan dan penghentian perbuatan yang merugikan tetap harus diutamakan. Merangkul pelaku agar memperbaiki diri tidak boleh berarti mengabaikan hak orang yang disakitinya.

Berikan Harapan tanpa Meremehkan Ancaman Dosa

Orang yang memiliki ilmu seharusnya menjelaskan petunjuk Allah, mengingatkan akibat maksiat, dan menunjukkan jalan kembali. Jangan sampai nasihat berhenti pada ancaman tanpa menjelaskan bahwa pintu tobat masih terbuka.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.’” (Petikan QS. Az-Zumar: 53).

Dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, as-Sa‘di menjelaskan bahwa keputusasaan dapat membuat seseorang terus bertahan dalam maksiat karena merasa tidak ada jalan untuk menghapus dosa-dosanya. Beliau menegaskan pentingnya kembali kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh. Tafsir As-Sa‘di, QS. Az-Zumar: 53.

Harapan yang benar bukanlah ucapan, “Tidak apa-apa terus berbuat dosa, Allah pasti mengampuni.” Harapan seharusnya menggerakkan seseorang untuk berhenti, menyesal, memperbaiki diri, dan menunaikan hak orang lain yang telah dilanggar.

Begitu pula peringatan yang benar tidak semestinya berubah menjadi ucapan, “Kamu sudah terlalu buruk untuk kembali.” Kita dapat bersikap tegas terhadap kesalahan sambil mengatakan, “Ini harus dihentikan, tetapi engkau masih bisa bertobat dan memperbaiki keadaan.”

Nasihat yang Baik Membantu Orang Bangkit

Dalam Majalis At-Tadzkir min Hadits Al-Basyir An-Nadzir, Abdul Hamid bin Badis menjelaskan pelajaran pendidikan dari hadis ini. Beliau menulis:

«إِذِ التَّحْقِيرُ وَالتَّقْنِيطُ وَقَطْعُ حَبْلِ الرَّجَاءِ قَتْلٌ لِلنُّفُوسِ»

“Sebab, merendahkan, membuat putus asa, dan memutus tali harapan merupakan pembunuhan terhadap jiwa.” Ungkapan ini merupakan gambaran tentang rusaknya semangat seseorang ketika terus direndahkan. Ibnu Badis menekankan pentingnya menghargai manusia dan membangkitkan harapan dalam pendidikan. Majalis At-Tadzkir, halaman 80 pada edisi yang dirujuk.

Pesan ini dekat dengan tanggung jawab orang tua, guru, dan siapa pun yang membimbing orang lain. Anak yang melakukan kesalahan perlu mengetahui letak salahnya dan cara memperbaikinya. Ia tidak membutuhkan label yang membuatnya merasa bahwa semua usahanya kelak akan sia-sia.

Bandingkan ucapan “Kamu tidak pernah bisa dipercaya” dengan “Kamu tadi tidak jujur. Sekarang sampaikan yang sebenarnya, lalu kita selesaikan akibatnya.” Keduanya menunjukkan ketidaksetujuan, tetapi yang kedua menyediakan langkah untuk bertanggung jawab.

Kelembutan seperti ini bukan jaminan seseorang langsung berubah. Namun, kita telah berusaha menyampaikan kebenaran tanpa menambahkan penghinaan yang tidak diperlukan.

Sikap Praktis saat Melihat Orang Berbuat Dosa

Periksa Niat dan Pastikan Informasinya

Sebelum berkomentar, tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya ingin membantu, atau sekadar melampiaskan kemarahan? Apakah saya mengetahui kejadiannya secara utuh, atau hanya melihat potongan cerita? Tidak semua hal yang beredar perlu segera ditanggapi atau disebarkan.

Jika persoalannya belum jelas, tahan kesimpulan. Jika hukumnya belum dipahami, belajarlah atau tanyakan kepada orang yang berilmu. Semangat membela agama perlu ditemani pengetahuan dan sikap adil.

Pilih Cara Menasihati yang Membuka Jalan Perbaikan

Untuk kesalahan pribadi, pertimbangkan nasihat secara pribadi agar lebih mudah diterima dan tidak berubah menjadi tontonan. Sampaikan kesalahan dengan jelas, dengarkan penjelasannya, dan tawarkan langkah yang mungkin dilakukan.

Jika perbuatan itu merugikan orang lain atau membahayakan, jangan berhenti pada nasihat pribadi. Cari bantuan pihak yang tepat agar bahaya dihentikan. Menjaga kehormatan seseorang tidak berarti menutup jalan pertolongan bagi korban.

Doakan dan Beri Ruang untuk Berubah

Jangan hanya mengingat seseorang melalui kesalahan terburuknya. Ketika ia mulai memperbaiki diri, hargai langkah baiknya tanpa terus mengungkit masa lalu. Pada saat yang sama, doakan agar Allah membimbingnya dan menjaga kita dari dosa yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Kita dapat membiasakan kalimat yang lebih membangun: “Semoga Allah membimbing kita,” atau “Mari kita cari cara agar kesalahan ini tidak terulang.” Dengan begitu, nasihat menjadi ajakan menuju kebaikan, bukan panggung untuk menunjukkan keunggulan diri.

Penutup: Tegas terhadap Dosa, Rendah Hati terhadap Sesama

Melihat orang berbuat dosa seharusnya menggerakkan kepedulian, bukan membuat kita merasa telah memiliki jaminan keselamatan. Kita tetap menjelaskan yang benar, mengingatkan yang salah, dan membantu perbaikan sesuai kemampuan. Namun, semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa diri sendiri pun membutuhkan rahmat Allah.

Tugas kita bukan membenarkan kemaksiatan, tetapi juga bukan menutup pintu harapan bagi pelakunya. Jangan sampai seseorang mengetahui bahwa dosanya besar melalui nasihat kita, tetapi tidak mengetahui bahwa ia masih memiliki jalan untuk bertobat.

Berhentilah merendahkan, mulailah merangkul. Tegaskan kesalahannya, tunjukkan jalan perbaikannya, dan jangan merasa paling suci ketika melakukannya.

← Kembali ke daftar artikel