“Ayo shalat.”

“Jangan main HP terus.”

“Kalau bicara yang sopan.”

“Jangan suka marah.”

“Rajin membaca.”

Kalimat-kalimat seperti ini akrab dalam kehidupan keluarga. Orang tua memberikan arahan karena menginginkan kebaikan bagi anak-anaknya. Perintah, larangan, dan nasihat memang merupakan bagian dari pendidikan.

Namun ada satu kenyataan yang perlu selalu diingat: anak tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan. Mereka juga memperhatikan bagaimana kita hidup.

Kita dapat meminta anak tidak bermain telepon genggam saat makan, tetapi bagaimana jika orang tua sendiri terus memegang telepon?

Kita dapat meminta anak berbicara lembut, tetapi bagaimana jika ia setiap hari mendengar orang tuanya membentak?

Kita dapat meminta anak rajin membaca Al-Qur’an, tetapi bagaimana jika ia hampir tidak pernah melihat mushaf terbuka di tangan ayah dan ibunya?

Di sinilah pentingnya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar perkara memberi perintah.

Pendidikan yang kuat lahir dari keteladanan.

Rasulullah ﷺ Adalah Teladan dalam Pendidikan

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”

QS. Al-Ahzab: 21

Allah tidak hanya mengutus Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan kata-kata. Beliau menjadi contoh hidup dari ajaran yang beliau sampaikan.

Ketika mengajarkan kesabaran, manusia melihat kesabaran dalam diri beliau. Ketika mengajarkan kasih sayang, para sahabat merasakan kasih sayang beliau. Ketika mengajarkan kesederhanaan, kehidupan beliau menjadi contoh. Ketika mengajarkan ibadah, para sahabat menyaksikan langsung bagaimana beliau shalat, berdzikir, berdoa, berpuasa, dan bermuamalah.

Inilah salah satu pelajaran penting dalam pendidikan: nilai akan lebih mudah masuk ke hati ketika anak melihat nilai tersebut hidup dalam diri orang yang mengajarkannya.

Anak Adalah Pengamat yang Sangat Baik

Kadang kita mengira anak tidak memperhatikan. Padahal mereka melihat banyak hal.

Mereka memperhatikan bagaimana ayah berbicara kepada ibu. Mereka memperhatikan bagaimana ibu menghadapi masalah. Mereka melihat cara orang tua memperlakukan pekerja, tetangga, guru, dan kerabat. Mereka mengetahui bagaimana orang tua bereaksi ketika marah.

Mereka juga melihat apakah nasihat orang tua sesuai dengan kehidupan orang tua sendiri.

Mungkin seorang anak belum mampu menjelaskannya dengan kalimat yang panjang. Namun pengalaman itu tersimpan dalam pikirannya.

Karena itulah pendidikan berlangsung bahkan ketika orang tua sedang tidak merasa sedang mendidik.

Ketidaksesuaian antara Ucapan dan Perbuatan Melemahkan Nasihat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”

QS. Ash-Shaff: 2–3

Ayat ini seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi setiap pendidik, termasuk orang tua.

Tentu tidak ada orang tua yang sempurna. Seorang ayah yang masih memiliki kekurangan tetap boleh menyuruh anaknya melakukan kebaikan. Seorang ibu yang masih berjuang memperbaiki dirinya tetap boleh menasihati anaknya.

Kekurangan diri bukan alasan untuk berhenti mengajak kepada kebaikan.

Namun pada saat yang sama, kita juga tidak boleh merasa cukup hanya dengan memberi perintah kepada anak tanpa berusaha memperbaiki diri sendiri.

Jika menginginkan anak jujur, kita harus menjaga kejujuran. Jika menginginkan anak disiplin, kita pun belajar menepati waktu. Jika ingin anak menghormati orang lain, mereka harus melihat bagaimana kita menghormati orang lain.

Keteladanan dalam Ibadah Dimulai dari Rumah

Bayangkan dua keadaan.

Pada keadaan pertama, seorang ayah setiap hari berkata kepada anaknya, “Ayo shalat.” Namun ketika adzan terdengar, ayah tetap sibuk dengan pekerjaannya.

Pada keadaan kedua, ketika adzan berkumandang, ayah meletakkan pekerjaannya dan bersiap menuju shalat sambil mengajak, “Ayo, Nak. Kita shalat.”

Kalimat yang diucapkan mungkin hampir sama. Tetapi kekuatan pendidikannya berbeda.

Anak dalam keadaan kedua tidak hanya menerima perintah. Ia melihat bahwa shalat benar-benar penting bagi ayahnya.

Demikian pula Al-Qur’an. Jika orang tua ingin anak mencintai Al-Qur’an, biarkan anak melihat Al-Qur’an menjadi bagian dari kehidupan orang tuanya.

Tidak perlu menunggu sempurna. Mulailah dari kebiasaan kecil yang konsisten.

Keteladanan dalam Mengendalikan Emosi

Banyak orang tua meminta anak agar tidak mudah marah. Namun pendidikan terbaik tentang mengendalikan amarah sering kali terjadi ketika orang tua sendiri sedang marah.

Ketika terjadi masalah di rumah, anak mengamati:

Apakah ayah langsung berteriak?

Apakah ibu mengeluarkan kata-kata kasar?

Apakah konflik diselesaikan dengan penghinaan?

Atau anak melihat orang tuanya berusaha menenangkan diri, berbicara setelah emosi mereda, meminta maaf ketika salah, dan menyelesaikan masalah dengan baik?

Saat itulah pendidikan terjadi.

Kita bisa memberikan seratus nasihat tentang kesabaran. Tetapi satu peristiwa ketika anak melihat orang tuanya menahan amarah dapat meninggalkan kesan yang sangat kuat.

Jangan Malu Meminta Maaf kepada Anak

Sebagian orang tua khawatir bahwa meminta maaf akan menurunkan wibawa.

Padahal mengatakan, “Ayah tadi terlalu keras. Ayah minta maaf,” atau, “Ibu tadi salah memahami kamu,” bukanlah kelemahan.

Justru anak belajar bahwa orang dewasa pun dapat melakukan kesalahan dan orang yang bersalah seharusnya mengakuinya.

Ini adalah pendidikan tentang kejujuran, tanggung jawab, dan kerendahan hati dalam satu tindakan sederhana.

Anak yang tumbuh di rumah tempat orang tuanya mampu meminta maaf lebih mudah memahami bahwa meminta maaf bukan sesuatu yang memalukan.

Keteladanan dalam Menggunakan Teknologi

Ini menjadi tantangan besar keluarga masa kini.

Kita ingin anak tidak kecanduan gawai. Tetapi orang tua pun perlu mengevaluasi penggunaan gawainya.

Anak akan sulit memahami larangan menggunakan telepon saat makan apabila seluruh anggota keluarga dewasa tetap melihat layar.

Solusinya bukan berarti orang tua tidak boleh menggunakan telepon. Orang tua memiliki pekerjaan dan kebutuhan yang berbeda dengan anak.

Namun anak perlu melihat adanya aturan yang juga dihormati orang tua. Misalnya:

  • Saat makan bersama, telepon disimpan.
  • Ketika berbicara, layar diletakkan.
  • Ada waktu tanpa perangkat elektronik.
  • Orang tua juga memiliki waktu membaca buku atau Al-Qur’an.

Ketika aturan menjadi budaya keluarga, anak lebih mudah mengikutinya daripada jika aturan hanya diberikan kepada dirinya seorang.

Keteladanan dalam Cara Berbicara

Akhlak tidak cukup diajarkan melalui definisi. Ia dipelajari dari suasana.

Anak yang tumbuh dengan ucapan “tolong”, “terima kasih”, “maaf”, dan kalimat yang lembut akan terbiasa dengan pola komunikasi tersebut.

Sebaliknya, anak yang setiap hari mendengar hinaan, ejekan, umpatan, dan bentakan akan menyerap pola yang sama.

Karena itu, apabila ingin memperbaiki cara bicara anak, sering kali yang pertama kali perlu dievaluasi bukanlah anak. Periksa cara komunikasi seluruh penghuni rumah.

Perintah Tetap Diperlukan

Mendidik dengan keteladanan bukan berarti orang tua tidak boleh memberi perintah.

Islam tetap mengajarkan adanya pengarahan, pembiasaan, aturan, disiplin, penghargaan, dan konsekuensi. Anak membutuhkan batas. Anak membutuhkan penjelasan tentang benar dan salah. Anak juga membutuhkan nasihat.

Namun perintah akan jauh lebih kuat apabila didukung teladan. Kita dapat menyederhanakannya menjadi tiga unsur:

Beri Penjelasan

Anak perlu memahami mengapa sebuah aturan diberikan. Tidak semua aturan membutuhkan penjelasan panjang, tetapi seiring bertambahnya usia, anak perlu memahami alasan di baliknya.

Beri Keteladanan

Tunjukkan bagaimana nilai itu dijalankan dalam kehidupan nyata.

Beri Pembiasaan

Kebaikan perlu diulang sampai menjadi kebiasaan.

Teladan tanpa pembiasaan dapat cepat hilang. Perintah tanpa teladan dapat terasa kosong. Sedangkan penjelasan, teladan, dan pembiasaan yang berjalan bersama akan membentuk pendidikan yang lebih kuat.

Orang Tua Juga Sedang Dididik

Menjadi orang tua sering membuat kita menyadari kekurangan diri sendiri.

Ketika ingin mengajarkan kesabaran kepada anak, kita menyadari betapa sulitnya bersabar. Ketika ingin anak disiplin, kita mulai melihat kekurangan dalam kedisiplinan sendiri. Ketika meminta anak mengurangi penggunaan gawai, kita sadar bahwa kita pun terlalu sering melihat layar.

Tidak perlu berkecil hati. Justru di situlah salah satu hikmah pendidikan keluarga.

Kita tidak hanya sedang membesarkan anak. Kita juga sedang memperbaiki diri.

Jadilah Teladan dalam Proses, Bukan Menunggu Sempurna

Sebagian orang mungkin berkata, “Bagaimana saya bisa menjadi teladan sedangkan saya sendiri masih banyak kekurangan?”

Tidak ada orang tua yang sempurna. Anak tidak membutuhkan orang tua yang tidak pernah salah.

Mereka membutuhkan orang tua yang apabila salah mau memperbaiki diri. Mereka perlu melihat ayah yang terus belajar. Ibu yang terus berusaha. Orang tua yang bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Justru proses memperbaiki diri itu sendiri merupakan keteladanan.

Anak dapat belajar bahwa menjadi baik bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu berusaha kembali kepada jalan yang benar.

Setiap Orang Tua Adalah Pemimpin

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

HR. Bukhari dan Muslim

Menjadi orang tua adalah amanah.

Kita tidak hanya bertanggung jawab menyediakan makanan, pakaian, rumah, dan sekolah.

Kita juga bertanggung jawab membangun lingkungan tempat anak belajar mengenal iman, akhlak, tanggung jawab, dan kehidupan.

Dan salah satu alat pendidikan paling kuat yang Allah berikan kepada orang tua adalah dirinya sendiri.

Penutup: Sebelum Meminta Anak Berubah, Mulailah dari Diri Kita

Anak mungkin lupa sebagian nasihat yang pernah kita sampaikan. Namun mereka akan membawa banyak kenangan tentang bagaimana orang tuanya menjalani kehidupan.

Mereka akan mengingat bagaimana ayah memperlakukan ibu. Bagaimana ibu berbicara ketika marah. Bagaimana keluarga menyambut waktu shalat. Bagaimana orang tua bersikap ketika melakukan kesalahan. Bagaimana masalah diselesaikan.

Karena itu, ketika ingin membentuk anak yang baik, jangan hanya bertanya, “Apa lagi yang harus saya katakan kepada anak saya?”

Sesekali tanyakan pula: “Apa yang sedang anak saya pelajari dengan melihat kehidupan saya?”

Teruslah memberi nasihat. Teruslah membuat aturan yang baik. Teruslah mengarahkan ketika anak salah. Namun sertai semuanya dengan keteladanan.

Karena dalam pendidikan, sering kali apa yang anak lihat jauh lebih lama tinggal di hatinya daripada apa yang sekadar ia dengar.

← Kembali ke daftar artikel