Setiap orang tua tentu berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Kita ingin mereka memiliki pendidikan yang bagus, akhlak yang mulia, pergaulan yang sehat, dan masa depan yang baik.

Namun ada satu bekal yang nilainya jauh lebih besar daripada semua itu: hati yang mencintai Al-Qur’an.

Anak yang tumbuh mencintai Al-Qur’an memiliki sesuatu yang akan menemaninya jauh melampaui masa sekolah. Ketika ia senang, Al-Qur’an membimbingnya untuk bersyukur. Ketika ia bersedih, Al-Qur’an mengingatkannya kepada kesabaran. Ketika ia bingung menentukan arah hidup, Al-Qur’an menjadi petunjuk.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”

QS. Al-Isra’: 9

Karena itu, membangun rumah yang dekat dengan Al-Qur’an bukan sekadar program tambahan dalam pendidikan keluarga. Ia merupakan salah satu fondasi terpenting dalam membentuk kehidupan seorang muslim.

Cinta kepada Al-Qur’an Tidak Tumbuh dalam Semalam

Tidak sedikit orang tua baru benar-benar memikirkan hubungan anak dengan Al-Qur’an ketika anak mulai sulit mengaji.

Kemudian muncul berbagai perintah: “Ayo mengaji.” “Sudah murajaah belum?” “Jangan bermain terus.”

Perintah tersebut tentu diperlukan. Namun cinta kepada Al-Qur’an tidak hanya tumbuh melalui perintah.

Anak belajar mencintai sesuatu melalui pengalaman yang terus berulang. Ia melihat bagaimana sesuatu itu diperlakukan di rumah. Ia memperhatikan apa yang membuat ayah dan ibunya bahagia. Ia merasakan suasana yang muncul ketika Al-Qur’an dibaca.

Maka sebelum bertanya, “Bagaimana membuat anak rajin mengaji?”, ada pertanyaan lain yang lebih mendasar: Seperti apa posisi Al-Qur’an di rumah kita?

Apakah mushaf hanya dibuka ketika ada tugas?

Apakah anak melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an?

Apakah ayat-ayat Allah pernah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari?

Apakah kegiatan bersama Al-Qur’an selalu identik dengan teguran dan tuntutan?

Pertanyaan seperti ini penting karena rumah adalah sekolah pertama bagi seorang anak.

Orang Tua Adalah Pintu Pertama Menuju Al-Qur’an

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

HR. Bukhari

Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak merupakan kehormatan besar. Namun mengajar tidak hanya berarti duduk di hadapan anak lalu memperbaiki bacaannya.

Cara orang tua memperlakukan Al-Qur’an juga merupakan pendidikan. Seorang anak yang setiap pagi melihat ayahnya membaca Al-Qur’an mendapatkan pelajaran tanpa ceramah. Seorang anak yang mendengar ibunya membaca beberapa ayat setelah shalat sedang menyaksikan sebuah teladan.

Mungkin ketika kecil anak belum memahami maknanya. Namun pemandangan itu tertanam dalam ingatannya.

Suatu hari ketika ia dewasa, ia dapat mengingat, “Dulu saya sering melihat ayah membaca Al-Qur’an setelah Subuh.” Kenangan sederhana seperti inilah yang sering menjadi bagian dari warisan pendidikan keluarga.

Jadikan Al-Qur’an Hadir dalam Kehidupan Rumah

Rumah Qurani bukan berarti seluruh anggota keluarga harus menjadi penghafal Al-Qur’an.

Rumah Qurani adalah rumah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang hidup, dekat, dan dihormati.

Mulailah dengan Waktu yang Pendek tetapi Konsisten

Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat target terlalu besar. Misalnya seluruh keluarga harus duduk membaca selama satu jam setiap hari. Program seperti itu mungkin berjalan beberapa hari, kemudian berhenti karena sulit dipertahankan.

Lebih baik memulai dengan sepuluh atau lima belas menit, tetapi terus berlangsung. Misalnya setelah Maghrib:

  • Ayah membaca beberapa ayat.
  • Anak membaca bergantian.
  • Ibu menyimak.
  • Kemudian satu ayat diterjemahkan dan dijelaskan secara sederhana.

Tidak perlu panjang. Yang ingin dibangun terlebih dahulu adalah suasana bahwa Al-Qur’an merupakan bagian alami dari kehidupan keluarga.

Jangan Jadikan Al-Qur’an Identik dengan Kemarahan

Ini terutama penting ketika mendidik anak. Anak tentu harus dikoreksi apabila bacaannya salah. Ia juga perlu diarahkan jika malas.

Namun berhati-hatilah agar pengalaman bersama Al-Qur’an tidak selalu dipenuhi bentakan, ancaman, dan perbandingan dengan anak lain.

“Temanmu sudah hafal banyak, kamu masih begitu-begitu saja.”

“Kok ayat ini salah terus?”

“Kalau tidak hafal, tidak boleh bermain.”

Jika setiap interaksi dengan Al-Qur’an menghadirkan tekanan, kita mungkin berhasil membuat anak menghafal beberapa halaman, tetapi belum tentu berhasil membuatnya mencintai Al-Qur’an.

Ketegasan tetap dibutuhkan. Disiplin tetap penting. Namun keduanya harus berjalan bersama kasih sayang dan kesabaran.

Biarkan Anak Melihat Orang Tuanya Belajar

Orang tua tidak perlu menunggu menjadi ahli tajwid untuk memberi teladan. Justru anak dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga ketika melihat ayah atau ibunya masih belajar.

Ayah yang berkata, “Bacaan ayah di bagian ini ternyata masih salah. Ayah juga harus belajar lagi,” sedang mengajarkan kerendahan hati.

Ibu yang mengikuti kelas tahsin sedang menunjukkan bahwa belajar Al-Qur’an tidak berhenti setelah dewasa.

Anak kemudian memahami bahwa Al-Qur’an bukan hanya pelajaran untuk anak kecil. Al-Qur’an adalah teman belajar seumur hidup.

Ceritakan Makna Al-Qur’an, Bukan Hanya Hurufnya

Kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik sangat penting. Hafalan juga merupakan nikmat besar. Namun jangan berhenti pada bacaan dan hafalan.

Anak perlu mengetahui bahwa ayat-ayat yang ia baca berbicara tentang kehidupan.

  • Ketika membaca kisah Nabi Yusuf, ceritakan tentang kesabaran dan menjaga kehormatan.
  • Ketika membaca kisah Nabi Ibrahim, bicarakan tentang tauhid dan ketaatan.
  • Ketika menemukan ayat tentang surga, bangun kerinduan kepada surga.
  • Ketika membaca ayat tentang berbakti kepada orang tua, hubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan cara ini, anak mulai melihat bahwa Al-Qur’an bukan buku yang hanya dibaca ketika mengaji. Al-Qur’an berbicara kepada dirinya.

Hidupkan Rumah dengan Bacaan Al-Qur’an

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.”

HR. Muslim

Hadits ini mengingatkan bahwa rumah seorang muslim hendaknya hidup dengan ibadah. Di rumah ada shalat. Ada doa. Ada dzikir. Dan ada bacaan Al-Qur’an.

Jangan sampai suara yang paling sering terdengar di rumah hanyalah televisi, video, musik, permainan, atau notifikasi telepon, sedangkan bacaan Al-Qur’an hampir tidak pernah terdengar.

Tidak perlu dibuat-buat. Mulailah dari diri sendiri. Ambil mushaf dan bacalah. Anak-anak akan melihatnya.

Jadikan Hafalan sebagai Perjalanan, Bukan Perlombaan

Di zaman ini, orang tua mudah melihat pencapaian anak lain melalui media sosial. Ada anak kecil yang hafal sekian juz. Ada yang bacaannya sangat bagus. Ada yang memenangkan perlombaan.

Hal tersebut dapat menjadi motivasi. Tetapi jangan menjadikannya alasan untuk membandingkan anak terus-menerus.

Setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Ada yang cepat menghafal tetapi cepat lupa. Ada yang lambat menghafal tetapi hafalannya kuat. Ada yang unggul dalam bacaan. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenal huruf.

Tugas orang tua adalah mendampingi perjalanan anak, bukan menjadikannya proyek untuk dibanggakan.

Apresiasi kemajuan kecil. “Hari ini bacaanmu lebih lancar.” “Masya Allah, ayat yang kemarin sulit sekarang sudah bisa.” Ucapan sederhana dapat membuat anak merasa bahwa prosesnya dihargai.

Kaitkan Al-Qur’an dengan Momen Kehidupan

Salah satu cara terbaik menumbuhkan cinta kepada Al-Qur’an adalah menghadirkan ayat pada saat yang tepat.

Ketika mendapat nikmat, ingatkan tentang syukur. Ketika anak kecewa, bicarakan tentang sabar. Ketika melakukan kesalahan, sampaikan bahwa Allah mencintai orang yang bertaubat. Ketika melihat keindahan langit, pepohonan, atau hujan, hubungkan dengan ayat-ayat tentang penciptaan.

Dengan demikian, anak memahami bahwa Al-Qur’an tidak terpisah dari kehidupan. Ia hadir dalam kebahagiaan, kesulitan, keputusan, dan keseharian.

Jangan Lupakan Doa

Setelah semua usaha dilakukan, orang tua harus menyadari bahwa hidayah berada di tangan Allah.

Kita dapat menyediakan guru terbaik. Kita dapat membeli mushaf yang bagus. Kita dapat membuat jadwal mengaji. Namun hanya Allah yang mampu menanamkan keimanan dan kecintaan kepada Al-Qur’an dalam hati seorang anak.

Karena itu, jangan hanya mendidik anak. Doakan mereka. Doakan agar Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hati mereka, petunjuk dalam kehidupan mereka, dan teman mereka sampai akhir hayat.

Penutup: Bangun Kenangan Bersama Al-Qur’an

Anak-anak suatu hari akan tumbuh besar. Mereka akan meninggalkan rumah, menjalani kehidupan sendiri, menghadapi ujian yang mungkin tidak lagi dapat kita selesaikan untuk mereka.

Pada saat itu, salah satu warisan terbaik yang dapat kita berikan adalah hubungan yang kuat dengan Al-Qur’an.

Mulailah dari hal sederhana. Biarkan mereka melihat kita membaca. Bacalah bersama meskipun hanya beberapa menit. Ceritakan makna ayat. Hargai usaha mereka. Jangan jadikan Al-Qur’an sumber tekanan. Dan jangan berhenti mendoakan mereka.

Kita mungkin tidak dapat menemani anak sepanjang hidupnya. Namun jika dengan izin Allah kita berhasil membuatnya mencintai Al-Qur’an, maka kita telah mengenalkannya kepada petunjuk yang dapat menemaninya jauh lebih lama daripada keberadaan kita di sisinya.

← Kembali ke daftar artikel