Pernahkah kita menyesali sesuatu dalam hidup?
Menyesal karena terlambat mengambil kesempatan, Menyesal karena mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan, Menyesal karena menyia-nyiakan waktu, Menyesal karena baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya.
Selama kita masih hidup, banyak penyesalan masih dapat diperbaiki, Jika pernah berbuat salah, kita masih dapat meminta maaf, Jika melakukan dosa, kita masih dapat bertaubat, Jika selama ini jauh dari Allah, kita masih dapat Kembali, Jika ibadah kita kurang, kita masih dapat memperbaikinya.
Namun akan datang satu masa ketika penyesalan tidak lagi dapat mengubah keadaan.
Itulah penyesalan setelah kematian.
Pada saat itu manusia akan memahami dengan sangat jelas betapa berharganya satu hari kehidupan, satu kesempatan bertaubat, bahkan dua rakaat shalat yang dahulu mungkin terasa ringan dan sering ditunda.
Karena itulah Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kehidupan dunia. Allah juga mengabarkan kepada kita apa yang akan dirasakan manusia ketika kehidupan dunia telah selesai.
Bukan agar kita hidup dalam ketakutan tanpa harapan, tetapi agar kita tidak menyesal ketika kesempatan untuk berubah telah berakhir.
Kita Tidak Diciptakan Tanpa Tujuan
Salah satu kelalaian terbesar manusia adalah menjalani kehidupan seolah-olah dunia merupakan akhir dari semuanya.
Bangun pagi, Bekerja, mencari penghasilan, membangun rumah, menikah, membesarkan anak, mengejar berbagai keinginan, kemudian usia terus bertambah, padahal kehidupan tidak berhenti ketika jantung berhenti berdetak.
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, kemudian akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Allah Ta’ala menggambarkan sebagian manusia:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum: 7)
Ayat ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.
Manusia dapat mengetahui banyak hal tentang dunia, kita mengetahui harga barang, mengikuti perkembangan teknologi, memahami tren terbaru. mengetahui berbagai berita, merencanakan pendidikan bertahun-tahun. merancang karier hingga puluhan tahun ke depan. tetapi berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk memikirkan perjalanan yang jauh lebih panjang setelah kematian?
Hari Ketika Semua Manusia Berdiri di Hadapan Allah
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Tidakkah mereka mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb seluruh alam?”
(QS. Al-Muthaffifin: 4–6)
Kematian bukan akhir, setelah kematian ada kebangkitan. setelah kebangkitan ada hisab, ada timbangan amal, dan pada akhirnya manusia akan mengetahui tempat kesudahannya.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamatlah diberikan dengan sempurna balasan kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ’Imran: 185)
Ayat ini memberikan ukuran keberhasilan yang berbeda dengan ukuran manusia.
Allah tidak mengatakan bahwa orang yang paling sukses adalah yang paling kaya, bukan yang paling terkenal, bukan yang paling tinggi jabatannya, tetapi:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung.”
Inilah keberhasilan yang sesungguhnya.
Penyesalan yang Masih Kita Rasakan Hari Ini Adalah Nikmat
Jika hari ini kita merasa menyesal karena dosa masa lalu, sebenarnya itu dapat menjadi nikmat.
Mengapa?
Karena kita masih hidup, pintu taubat masih terbuka, kita masih dapat bersujud. masih dapat meminta ampun, masih dapat mengembalikan hak orang, masih dapat memperbaiki hubungan, masih dapat membaca Al-Qur’an, masih dapat bersedekah, masih dapat mengubah arah kehidupan, masalah sebenarnya bukan ketika seseorang pernah melakukan dosa, masalah terbesar adalah ketika ia terus menunda taubat sampai kematian datang.
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana orang-orang yang lalai kelak ingin mendapatkan kembali kesempatan yang hari ini kita miliki dengan gratis.
Setidaknya ada empat fase penyesalan besar yang layak kita renungkan.
1. Penyesalan Ketika Kematian Datang
Inilah pintu pertama ketika seseorang mulai melihat bahwa dunia yang selama ini dikejar ternyata benar-benar akan ditinggalkan.
Allah menggambarkan keadaan manusia ketika kematian mendatanginya:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا
“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, kembalikanlah aku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Perhatikan apa yang dimintanya.
Ia tidak berkata:
“Kembalikan aku agar aku bisa menikmati rumahku sekali lagi.”
Tidak pula:
“Kembalikan aku agar aku bisa melihat hartaku.”
Yang ia inginkan justru:
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا
“Agar aku dapat melakukan amal saleh.”
Mengapa?
Karena pada saat itu ukuran kehidupan telah berubah, apa yang dahulu dianggap sangat penting menjadi tidak berarti, sedangkan amal yang dahulu sering ditunda tiba-tiba menjadi sesuatu yang paling diinginkan.
Ketika Tambahan Umur Menjadi Keinginan Terbesar
Saat kematian telah datang, manusia baru menyadari nilai waktu, mungkin dahulu lima menit setelah adzan dianggap terlalu mahal untuk segera berangkat shalat, beberapa menit membaca Al-Qur’an terasa berat, mengeluarkan sebagian harta untuk sedekah terasa saying, bangun malam terasa sulit, tetapi ketika maut hadir, manusia ingin mendapatkan semua kesempatan itu kembali.
Sayangnya:
كَلَّا “Sekali-kali tidak.”
Kesempatan telah selesai.
Jenazah yang Ingin Segera Dibawa dan Jenazah yang Ketakutan
Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat kuat tentang perjalanan jenazah, Beliau bersabda bahwa ketika jenazah diletakkan dan dipikul oleh orang-orang, jika ia termasuk orang saleh, ia berkata:
قَدِّمُونِي، قَدِّمُونِي
“Segerakanlah aku. Segerakanlah aku.”
Namun apabila ia bukan orang yang saleh, ia berkata:
يَا وَيْلَهَا، أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟
“Celaka! Ke mana mereka membawanya?”
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya ia akan jatuh pingsan.
(HR. Bukhari)
Dua jenazah, sama-sama meninggalkan dunia, namun perasaannya sangat berbeda.
Yang satu ingin segera bertemu dengan apa yang Allah siapkan, yang lainnya ingin perjalanan itu dihentikan.
Apa yang membedakannya?. Apa yang mereka lakukan ketika masih memiliki waktu.
2. Penyesalan di Alam Kubur
Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh, pada saat itulah nilai amal menjadi semakin jelas, ada sebuah riwayat yang sangat menyentuh, Rasulullah ﷺ pernah melewati sebuah kubur yang baru. Beliau bertanya:
من صاحب هذا القبر؟
“Siapa penghuni kubur ini?”
Para sahabat menjawab bahwa ia adalah si fulan.
Kemudian beliau menjelaskan :
ركعتان أحب إلى هذا من دنياكم.
bahwa dua rakaat ringan yang dahulu mungkin dianggap kecil oleh orang yang masih hidup lebih dicintai penghuni kubur tersebut daripada dunia kalian.
Apa artinya?
Hari ini dua rakaat terasa sederhana, mungkin hanya membutuhkan beberapa menit, namun bagi orang yang telah meninggal, kesempatan melakukan dua rakaat tidak dapat dibeli dengan seluruh kekayaan dunia.
Coba bayangkan.
Berapa kali hari ini kita memiliki kesempatan mengerjakan dua rakaat tetapi memilih menundanya?
Berapa banyak waktu yang habis tanpa terasa di depan layar?
Lima belas menit untuk media sosial terasa sebentar, tetapi lima menit untuk shalat sunnah terkadang terasa panjang.
Orang yang telah masuk kubur memahami nilainya, kita yang masih hidup terkadang belum.
Sebagian Azab Kubur Berasal dari Dosa yang Dianggap Ringan
Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan.
Beliau bersabda:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ
“Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena sesuatu yang dianggap besar.”
Kemudian beliau menjelaskan:
أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Salah satunya tidak menjaga diri dari air kencing, sedangkan yang lainnya berjalan melakukan namimah (adu domba).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan sesuatu yang penting, jangan hanya takut terhadap dosa yang menurut manusia terlihat besar, ada dosa yang menjadi kebiasaan.
Ada ucapan yang dianggap biasa.
Ada perbuatan yang terus dilakukan karena orang lain juga melakukannya.
Namun di sisi Allah, perkara itu dapat sangat berat, terutama dosa lisan, mengadu domba, menyebarkan ucapan orang, memancing konflik, menyebarkan sesuatu yang membuat hubungan manusia rusak.
Di zaman media sosial, dosa seperti ini bahkan dapat dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan jari.
3. Penyesalan Ketika Dibangkitkan pada Hari Kiamat
Kemudian datang hari yang jauh lebih dahsyat, sangkakala ditiup, manusia dibangkitkan dari kuburnya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ
“Lalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kubur menuju Rabb mereka. Mereka berkata, ‘Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?’ Inilah yang dijanjikan Ar-Rahman dan benarlah para rasul.”
(QS. Yasin: 51–52)
Hari itu semua menjadi nyata.
Hari Kiamat yang dahulu hanya dibaca dalam Al-Qur’an telah berada di depan mata.
Hisab nyata, surga nyata, neraka nyata, timbangan amal nyata.
Maka apa yang dahulu dianggap berlebihan ketika para dai mengingatkan tentang akhirat tidak lagi dapat disangkal.
Ketika Timbangan Kebaikan Terlalu Ringan
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
“Barang siapa ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.”
(QS. Al-A’raf: 9)
Inilah kerugian terbesar, bukan kehilangan uang, bukan gagal mendapatkan jabatan, bukan bisnis yang bangkrut, bukan semua aset sedang crash
Tetapi kehilangan diri sendiri di akhirat, di dunia seseorang mungkin masih dapat bangkit setelah kerugian besar, bisnis dapat dibangun Kembali, harta dapat dicari lagi, kesempatan kerja dapat datang lagi.
Namun ketika timbangan telah ditegakkan, masa beramal telah selesai, karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan.
Bisa jadi satu sedekah yang Ikhlas, satu istighfar, satu rakat, satu kebaikan kepada orang tua, satu langkah menuju masjid, satu bantuan kepada orang yang kesulitan.
Menjadi amal yang kelak sangat kita butuhkan.
4. Penyesalan Ketika Berada di Neraka
Inilah penyesalan yang paling berat.
Allah menggambarkan penghuni neraka yang berteriak memohon agar dikembalikan.
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ
“Dan mereka berteriak di dalamnya, ‘Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang berbeda dengan apa yang dahulu kami kerjakan.’”
Allah menjawab:
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ
“Bukankah Kami telah memberikan umur yang cukup kepadamu sehingga orang yang mau mengambil pelajaran dapat mengambil pelajaran, dan telah datang kepada kalian pemberi peringatan?”
Kemudian:
فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Maka rasakanlah. Tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.”
(QS. Fathir: 37)
Sekali lagi permintaan mereka sama:
ingin beramal saleh, dahulu ketika kesempatan ada, amal ditunda, ketika kesempatan hilang, amal menjadi keinginan terbesar.
Jangan Membayangkan Neraka sebagai Sesuatu yang Ringan
Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang membuat hati bergetar.
Beliau bersabda:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا
“Pada hari itu Jahannam didatangkan. Ia memiliki tujuh puluh ribu tali kekang. Pada setiap tali terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.”
(HR. Muslim)
Mengapa Rasulullah ﷺ memberitahukan semua ini kepada kita?
Bukan agar seorang muslim berputus asa. Justru sebaliknya.
Agar kita menyelamatkan diri ketika kesempatan masih ada.
Hari ini neraka belum berada di depan mata kita, hari ini pintu taubat masih terbuka, hari ini kita masih dapat berubah.
Apa Persamaan dari Empat Penyesalan Ini?
Jika diperhatikan, ada benang merah yang sangat kuat.
Ketika kematian datang, mereka ingin: beramal saleh.
Di alam kubur, dua rakaat menjadi lebih berharga daripada dunia.
Pada Hari Kiamat, manusia menyesali timbangan amalnya.
Di neraka, mereka kembali meminta kesempatan:
“Keluarkan kami, kami akan beramal saleh.”
Semua berputar pada satu perkara:
amal yang dahulu dapat dilakukan, tetapi disia-siakan.
Maka pertanyaannya sekarang bukan:
“Apakah orang yang sudah meninggal ingin kembali?” Al-Qur’an sudah menjelaskannya, pertanyaan yang lebih penting adalah:
Jika mereka ingin kembali ke hari seperti hari yang sedang kita jalani sekarang, apa yang akan kita lakukan dengan hari ini?
Jangan Menunggu Menjadi Baik untuk Bertaubat
Ada orang berkata: “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin.” “Nanti kalau pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk.” “Nanti setelah menikah.” “Nanti setelah ekonomi stabil.” “Nanti ketika sudah pensiun.”
Masalahnya, kematian tidak membuat janji untuk menunggu semua itu selesai, taubat tidak membutuhkan kita menjadi baik terlebih dahulu, justru kita bertaubat karena ingin menjadi lebih baik.
Jika ada dosa, tinggalkan, jika ada shalat yang selama ini dilalaikan, mulai jaga, jika ada hak orang lain, kembalikan, jika hubungan dengan orang tua buruk, perbaiki, jika Al-Qur’an sudah lama tidak dibuka, mulailah Kembali, jangan menunggu perubahan sempurna, mulailah dengan satu langkah.
Gunakan Jam-Jam Usia Sebelum Menjadi Penyesalan
Hidup sebenarnya terdiri dari kumpulan jam.
Jam demi jam berubah menjadi hari, Hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun, kemudian tanpa terasa seseorang berkata: “Tidak terasa saya sudah berumur sekian.”
Memang demikian.
Usia berjalan tanpa menunggu kita siap, karena itu, salah satu cara terbaik mempersiapkan akhirat bukan dengan terus memikirkan berapa lama kita akan hidup.
Tetapi bertanya:
Apa yang saya lakukan dengan hari yang Allah berikan sekarang?
Kita mungkin tidak mampu melakukan semuanya, tetapi kita dapat menjaga yang wajib,meninggalkan dosa yang diketahui, bertaubat ketika terjatuh, menambah amal sedikit demi sedikit, dan tidak berhenti meminta pertolongan Allah.
Tiga Pertanyaan untuk Muhasabah Malam Ini
Sebelum tidur, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri:
Jika malam ini adalah malam terakhir, dosa apa yang belum saya taubati?
Jangan hanya mengingat dosa besar.
Periksa pula dosa lisan, pandangan, hak manusia, dan kewajiban yang selama ini diabaikan.
Jika besok tidak ada kesempatan lagi, amal apa yang paling saya sesali karena terus ditunda?
Mungkin shalat, sedekah, menghubungi orang tua, meminta maaf, membaca Al-Qur’an, atau memperbaiki suatu kebiasaan.
Jika Allah masih memberi saya hari esok, apa satu perubahan nyata yang akan saya lakukan?
Jangan terlalu banyak.
Satu perubahan yang dijaga lebih baik daripada sepuluh rencana yang tidak pernah dilakukan.
Penutup: Hari yang Mereka Minta Adalah Hari yang Sedang Kita Miliki
Bayangkan seseorang yang kematiannya telah datang.
Ia berkata:
رَبِّ ارْجِعُونِ
“Wahai Rabb-ku, kembalikanlah aku.”
Untuk apa?
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا
“Agar aku dapat melakukan amal saleh.”
Ia ingin kembali.
Kita belum perlu Kembali, kita masih berada di sini.
Kita masih memiliki hari yang ia inginkan, masih dapat shalat, masih dapat bersujud, masih dapat bertaubat, masih dapat membaca Al-Qur’an, masih dapat meminta maaf, masih dapat bersedekah, masih dapat memperbaiki diri.
Maka jangan tunggu sampai kita mengetahui nilai kehidupan dengan cara yang paling menyakitkan: setelah kehidupan itu hilang.
Jika ada dosa, bertaubatlah hari ini, jika ada kebaikan yang bisa dilakukan, kerjakanlah hari ini, jika ada kewajiban yang selama ini dilalaikan, mulailah memperbaikinya hari ini.
Karena kita tidak tahu kapan perjalanan ini berakhir.
Dan kelak, yang paling kita sesali mungkin bukan sesuatu yang tidak pernah kita miliki.
Tetapi kesempatan beramal yang pernah berada di tangan kita, lalu kita biarkan berlalu begitu saja.
← Kembali ke semua artikel
