Mukadimah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat dan karunia-Nya yang begitu banyak. Dengan nikmat itu, sampai hari ini kita masih diberi kesempatan untuk terus merealisasikan tujuan penciptaan kita, yaitu mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Setiap muslim yang benar keimanannya tentu menghendaki derajat yang tinggi di sisi Allah. Akan tetapi, derajat itu tidak diraih hanya dengan berangan-angan, berpangku tangan, dan bermalas-malasan. Ia diraih dengan iman yang benar dan kesungguhan dalam memperbanyak amal saleh. Amal itu kadang melelahkan tubuh dan menyita waktu. Namun, apabila dilakukan dengan ikhlas, hanya mengharapkan balasan Allah, insyaallah yang berat menjadi ringan dan yang melelahkan berbuah kebahagiaan.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Rabbmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-An‘am: 132)
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya disyukuri. (QS. Al-Isra’: 19)
Ikhwani fiddin, alhamdulillah Allah masih memberikan kepada kita taufik, hidayah, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul di salah satu tempat terbaik di muka bumi, yaitu rumah Allah. Kita berkumpul untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga pertemuan ini dicatat sebagai amal saleh yang mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
Hadis yang Menjadi Poros Kajian
Pada kesempatan ini kita akan membahas sebuah hadis dari Sahl bin Sa‘ad radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Ausath. Syekh Al-Albani menilainya hasan dengan keseluruhan jalur periwayatannya dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 831 dan mencantumkannya dalam Shahih Al-Jami‘ nomor 73. Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata:
يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Beramallah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan atasnya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malamnya dan kehormatannya terletak pada sikap tidak bergantung kepada manusia.
Hadis yang ringkas ini menghimpun lima nasihat besar: kepastian kematian, kepastian perpisahan, kepastian pembalasan, jalan meraih kemuliaan, dan jalan menjaga kehormatan. Kalimat ‘sesukamu’ bukanlah izin untuk mengikuti hawa nafsu. Ia adalah peringatan yang sangat tegas: silakan memilih, tetapi ingat bahwa setiap pilihan mempunyai akhir dan pertanggungjawaban.
Wasiat Pertama: Hiduplah Sesukamu, Engkau Pasti Mati
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ
Inilah kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh seorang pun. Manusia boleh berumur panjang, memiliki tubuh yang sehat, rumah yang kokoh, kedudukan yang tinggi, dan harta yang banyak. Namun kesudahannya tetap sama: kematian. Setiap kita pernah mendengar kabar wafatnya ayah, ibu, saudara, sahabat, guru, atau tetangga. Semua itu bukan sekadar kabar; ia adalah teguran bahwa giliran kita semakin dekat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamatlah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali ‘Imran: 185)
Allah tidak menyebut orang yang paling banyak hartanya sebagai orang yang menang. Allah juga tidak menyebut orang yang paling tinggi kedudukannya sebagai orang yang berhasil. Ukuran keberhasilan yang sejati ialah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati. (QS. Az-Zumar: 30)
Ayat ini termasuk ayat yang dibacakan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika sebagian kaum muslimin belum mampu menerima kabar wafatnya Rasulullah ﷺ. Beliau juga membacakan firman Allah:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang? (QS. Ali ‘Imran: 144)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. (QS. An-Nisa’: 78)
Karena itu, persoalannya bukan apakah kita akan mati, tetapi dalam keadaan bagaimana kita meninggal. Apakah ketika sedang taat atau bermaksiat? Apakah membawa tauhid yang bersih atau hati yang penuh penyakit? Apakah masih menyimpan hak manusia yang belum ditunaikan? Orang yang cerdas bukan orang yang sekadar pandai mengatur kehidupan dunia, tetapi orang yang sering mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk sesudahnya.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang saleh.’ (QS. Al-Munafiqun: 10)
Jangan menunggu sakit untuk bertaubat, jangan menunggu tua untuk rajin beribadah, dan jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Ajal tidak pernah berjanji menunggu kesiapan kita. Inti wasiat pertama ini adalah keyakinan kepada akhirat yang melahirkan persiapan nyata, bukan keyakinan yang berhenti pada ucapan.
Wasiat Kedua: Cintailah Siapa yang Engkau Kehendaki, Engkau Akan Berpisah Dengannya
وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ
Islam tidak melarang kita mencintai pasangan, anak, orang tua, sahabat, rumah, pekerjaan, dan harta. Cinta adalah fitrah. Namun Islam mengajarkan agar cinta kepada makhluk tidak melampaui cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Semua yang kita cintai di dunia akan berpisah dengan kita: boleh jadi kita lebih dahulu meninggalkannya atau ia lebih dahulu meninggalkan kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ؛ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Tiga perkara mengiringi mayit. Dua kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga, harta, dan amalnya mengiringinya; keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ketika jenazah telah diletakkan di liang lahat, keluarga yang sangat mencintainya harus pulang. Harta yang dikumpulkannya berpindah tangan. Jabatan yang dibanggakannya diisi orang lain. Yang masuk bersamanya hanyalah amal. Karena itu, teman sejati kita bukanlah harta yang disimpan, melainkan salat yang dijaga, sedekah yang disembunyikan, bacaan Al-Qur’an, bakti kepada orang tua, pendidikan yang baik untuk anak, dan setiap amal yang ikhlas.
Wasiat ini juga mengajari kita mencintai dengan cara yang benar. Jangan hanya ingin berkumpul dengan keluarga di dunia. Bimbinglah mereka dalam ketaatan agar Allah mempertemukan kembali di surga. Jangan sampai cinta membuat kita membenarkan kesalahan orang yang kita sayangi atau mendahulukan ridanya daripada rida Allah.
Wasiat Ketiga: Beramallah Sesukamu, Engkau Akan Dibalas
وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
Manusia memang diberi kehendak untuk memilih jalan ketaatan atau kemaksiatan. Namun ia tidak diberi kebebasan untuk lepas dari akibat pilihannya. Setiap ucapan akan dicatat, setiap pandangan akan dimintai pertanggungjawaban, setiap langkah mempunyai bekas, dan setiap amal akan kembali kepada pelakunya.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini mengajarkan dua perkara. Pertama, jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Kedua, jangan meremehkan dosa sekecil apa pun.
Jangan Meremehkan Kebaikan
Sesuatu yang besar sering tersusun dari perkara-perkara kecil. Gunung yang menjulang terdiri atas butiran dan bebatuan. Demikian pula timbangan amal seorang hamba dapat menjadi berat karena kebaikan-kebaikan yang dahulu dianggapnya sederhana.
Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
Jagalah diri kalian dari neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh buah kurma. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jangan berkata, ‘Saya hanya mampu memberi sedikit.’ Bisa jadi sesuatu yang sedikit, apabila berasal dari harta yang halal dan hati yang ikhlas, dibesarkan oleh Allah hingga menjadi sebab keselamatan. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Allah mengampuni seorang wanita pezina yang memberi minum seekor anjing yang sangat kehausan. Jika belas kasih kepada seekor anjing menjadi sebab ampunan, bagaimana dengan menolong manusia yang sedang membutuhkan?
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri. (HR. Muslim)
Jangan Meremehkan Dosa
Sebaliknya, dosa kecil yang dibiarkan, diulang, dan tidak ditaubati dapat berkumpul hingga membinasakan. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat jelas:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil. Perumpamaannya seperti suatu kaum yang singgah di lembah; orang ini membawa sebatang kayu dan orang itu membawa sebatang kayu, hingga mereka dapat memasak roti. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap kecil, ketika pelakunya dihukum karenanya, akan membinasakannya. (HR. Ahmad; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Bahaya dosa kecil bukan hanya pada ukuran dosanya, tetapi pada sikap hati yang meremehkannya. Seorang mukmin melihat dosa sebagai pelanggaran terhadap Zat Yang Mahaagung. Karena itu, setelah tergelincir ia segera berhenti, menyesal, memohon ampun, dan bertekad tidak mengulanginya.
Wasiat Keempat: Kemuliaan Mukmin Ada pada Salat Malam
وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ
Di antara amal yang mengantarkan seorang mukmin kepada kemuliaan adalah berdiri menghadap Allah pada malam hari. Pada saat manusia terlelap, ia bangun meninggalkan tempat tidurnya. Tidak ada yang melihat selain Allah. Karena itu, salat malam merupakan madrasah keikhlasan, tanda kecintaan, dan saat yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan kepada Rabb semesta alam.
Rasulullah ﷺ senantiasa melaksanakan salat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Tidakkah aku senang menjadi hamba yang banyak bersyukur? (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Perhatikan jawaban beliau. Salat malam bukan hanya dilakukan ketika kita mempunyai masalah. Ia juga merupakan bentuk syukur atas nikmat. Saat Allah memberi kesehatan, keluarga, rezeki, ilmu, dan keamanan, semua itu seharusnya mendorong kita semakin tunduk kepada-Nya.
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan. (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Tidak semua orang harus memulai dengan sebelas rakaat yang panjang. Mulailah sesuai kemampuan, meskipun hanya dua rakaat sebelum Subuh atau sebelum tidur apabila khawatir tidak terbangun. Yang paling dicintai Allah adalah amal yang terus-menerus walaupun sedikit. Setelah terbiasa, tambahkan secara bertahap. Jangan biarkan keinginan melakukan yang banyak justru membuat kita tidak memulai sama sekali.
Wasiat Kelima: Kehormatan Mukmin Ada pada Sikap Tidak Bergantung kepada Manusia
وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
Kehormatan seorang mukmin tumbuh ketika hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada apa yang ada di tangan manusia. Ia tetap bekerja, bermuamalah, saling membantu, dan menerima pemberian yang halal. Namun hatinya tidak mengemis pujian, tidak merendahkan diri demi harta, dan tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung yang utama.
Beberapa orang Anshar pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ. Beliau memberi sampai habis apa yang ada pada beliau, kemudian bersabda:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Barang siapa menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Barang siapa merasa cukup, Allah akan mencukupkannya. Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sikap merasa cukup bukan berarti menolak bantuan ketika benar-benar membutuhkan. Bukan pula berarti tidak boleh meminta pertolongan dalam urusan yang wajar. Maksudnya ialah menjaga hati dari ketamakan dan menjaga diri dari kebiasaan meminta tanpa kebutuhan. Seorang mukmin mengambil sebab, bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa kepada Allah, lalu menerima ketetapan-Nya dengan qanaah.
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّ الطَّمَعَ فَقْرٌ، وَإِنَّ الْيَأْسَ غِنًى، إِنَّهُ مَنْ يَيْأَسْ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ اسْتَغْنَى عَنْهُمْ
Sesungguhnya ketamakan adalah kefakiran, sedangkan tidak berharap kepada apa yang dimiliki manusia adalah kekayaan. Barang siapa memutus harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia, ia tidak membutuhkan mereka.
Orang yang kaya hatinya dapat hidup tenang meskipun hartanya terbatas. Sebaliknya, orang yang selalu memandang milik orang lain tetap merasa miskin walaupun hartanya banyak. Karena itu, mintalah kebutuhan kepada Allah terlebih dahulu, bekerja dan berikhtiarlah dengan cara yang halal, serta jangan menjual kehormatan demi sesuatu yang fana.
Lima Langkah Amal
Ilmu belum sempurna sampai melahirkan amal. Mari bertekad untuk :
✓ Sebelum tidur, melakukan muhasabah singkat: jika malam ini adalah malam terakhir, adakah kewajiban atau hak manusia yang belum kita tunaikan?
✓ Perbaiki cinta kepada keluarga dengan mengajak mereka kepada satu ketaatan, bukan hanya memenuhi kebutuhan dunianya.
✓ Pilih satu kebaikan kecil yang akan dijaga setiap hari dan satu dosa yang harus segera ditinggalkan.
✓ Mulai salat malam dua rakaat secara rutin, kemudian tambah sesuai kemampuan.
✓ Latih qanaah: kurangi meminta tanpa kebutuhan, perbanyak doa kepada Allah, dan syukuri apa yang telah ada.
Penutup
Ikhwani fiddin, lima wasiat ini ringkas dalam lafaz tetapi luas dalam makna. Hiduplah, tetapi ingat kematian. Cintailah, tetapi ingat perpisahan. Beramallah, tetapi ingat pembalasan. Carilah kemuliaan dengan berdiri di hadapan Allah pada malam hari. Jagalah kehormatan dengan menggantungkan hati hanya kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran sebelum datang penyesalan, beramal sebelum berakhir kesempatan, dan berjumpa dengan-Nya dalam keadaan Dia rida kepada kita.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَأَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik. Jadikan amal terbaik kami sebagai penutupnya dan hari terbaik kami sebagai hari ketika berjumpa dengan-Mu.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
← Kembali ke semua artikel
