Rasa malas dapat datang kepada siapa saja. Ada kalanya seseorang mengetahui kebaikan yang harus dilakukan dan mempunyai kemampuan untuk mengerjakannya, tetapi ia terus menunda. Salat terasa berat, membaca Al-Qur’an selalu ditangguhkan, pekerjaan tidak segera diselesaikan, dan waktu berlalu tanpa hasil yang berarti.

Dalam Islam, sifat malas bukan sekadar persoalan kurang produktif. Malas dapat menjadi penghalang antara seorang hamba dan berbagai kebaikan dunia maupun akhirat. Karena itu, Rasulullah ﷺ berulang kali memohon perlindungan kepada Allah dari sifat ini.

Lalu, apakah setiap rasa lelah dapat disebut malas? Apa penyebab malas beribadah? Dan bagaimana cara mengatasi rasa malas dalam Islam? Berikut penjelasan berdasarkan Al-Qur’an, hadis sahih, dan nasihat para ulama.

Apa yang Dimaksud dengan Malas dalam Islam?

Ar-Raghib Al-Ashfahani menjelaskan bahwa malas adalah merasa berat melakukan sesuatu yang semestinya tidak pantas dirasakan berat. Contohnya ialah merasa berat melaksanakan salat, puasa, menuntut ilmu, bekerja untuk memenuhi kewajiban, atau melakukan ketaatan lain padahal seseorang memiliki kemampuan.

Dengan demikian, malas berbeda dari ketidakmampuan. Ketidakmampuan terjadi ketika seseorang benar-benar tidak memiliki kemampuan atau sarana. Adapun malas terjadi ketika kemampuan itu ada, tetapi kemauan untuk bertindak melemah.

Pembedaan ini penting. Tidak setiap orang yang sedang beristirahat disebut pemalas. Tubuh mempunyai hak untuk beristirahat, orang sakit mempunyai uzur, dan orang yang mengalami kelelahan berat memerlukan pemulihan. Sifat tercela muncul ketika seseorang mampu melakukan kewajiban atau kebaikan, tetapi terus meninggalkannya tanpa alasan yang dibenarkan.

Mengapa Sifat Malas Berbahaya?

1. Malas merupakan salah satu sifat orang munafik

Allah menyebut bahwa salah satu ciri orang munafik adalah merasa berat ketika berdiri untuk salat:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka. Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit. (QS. An-Nisa’: 142)

Ayat ini bukan alasan untuk mudah menuduh orang lain munafik. Ayat ini merupakan cermin untuk memeriksa diri: apakah kita sering menunda salat, mengerjakannya tanpa perhatian, dan baru bersemangat ketika dilihat manusia?

2. Malas menghalangi kebaikan dan pahala

Kesempatan beramal tidak selalu datang dua kali. Sifat malas membuat seseorang kehilangan waktu, kesempatan belajar, peluang menolong orang lain, dan berbagai pintu pahala. Hari-hari berlalu, tetapi bekal menuju akhirat tidak bertambah.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Rabbmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-An‘am: 132)

Derajat diperoleh melalui iman dan amal, bukan hanya melalui keinginan. Banyak orang ingin menjadi lebih baik, tetapi keinginan tanpa tindakan hanya akan menjadi angan-angan.

3. Malas membuat seseorang condong kepada kenyamanan dunia

Allah memperingatkan orang-orang beriman yang merasa berat ketika diajak berjuang di jalan-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepadamu, ‘Berangkatlah di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? (QS. At-Taubah: 38)

Kenyamanan bukan sesuatu yang haram. Namun ketika kenyamanan membuat kewajiban ditinggalkan, ilmu tidak dicari, dan amanah diabaikan, kenyamanan itu telah berubah menjadi penghalang.

Dua Bentuk Rasa Malas

1. Malas menggunakan akal

Allah menganugerahkan akal agar manusia berpikir, belajar, dan mengambil pelajaran. Malas berpikir membuat seseorang menerima informasi tanpa memeriksa, membaca ayat tanpa tadabur, dan menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah tanpa mengambil hikmah.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. (QS. Ali ‘Imran: 191)

2. Malas menggerakkan anggota badan

Bentuk kedua adalah berat menggerakkan tubuh menuju ketaatan dan perkara bermanfaat: malas salat berjamaah, malas bangun Subuh, malas bekerja, malas menuntut ilmu, malas membantu keluarga, atau malas menyelesaikan amanah.

Pikiran dan anggota badan saling memengaruhi. Orang yang terus membiarkan pikiran kosong akan lebih mudah menunda. Sebaliknya, langkah kecil yang segera dilakukan dapat menumbuhkan semangat untuk menyelesaikan langkah berikutnya.

Penyebab Rasa Malas yang Perlu Dikenali

Mengatasi rasa malas dimulai dengan mengetahui penyebabnya. Obat untuk setiap penyebab tidak selalu sama. Di antara penyebab yang sering terjadi ialah:

  • Lemahnya tujuan: seseorang tidak mengetahui untuk apa ia melakukan suatu pekerjaan.
  • Terlalu mengikuti kenyamanan dan kesenangan sesaat.
  • Sering menunda sampai pekerjaan terasa semakin berat.
  • Begadang dan pola istirahat yang tidak tertata.
  • Terlalu banyak gangguan, terutama membuka hal-hal yang tidak penting ketika hendak bekerja.
  • Membayangkan pekerjaan sekaligus dalam ukuran besar sehingga takut memulai.
  • Kurang berdoa dan kurang memohon pertolongan kepada Allah.
  • Tidak memiliki lingkungan yang mendorong kepada kebaikan.

Kadang-kadang berkurangnya energi juga berkaitan dengan sakit atau kondisi yang memerlukan pertolongan. Karena itu, jangan tergesa-gesa menuduh diri sendiri atau orang lain sebagai pemalas. Apabila rasa lelah berlangsung terus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai keluhan lain, carilah pemeriksaan dan bantuan yang tepat.

Cara Mengatasi Rasa Malas dalam Islam

1. Memohon pertolongan kepada Allah

Langkah pertama bukan mengandalkan kekuatan diri. Seorang muslim berusaha, tetapi ia mengetahui bahwa taufik berasal dari Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah. (HR. Muslim no. 2664)

Hadis ini menghimpun tiga prinsip perubahan: pilih yang bermanfaat, kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan minta pertolongan kepada Allah. Usaha tanpa doa dapat melahirkan kesombongan, sedangkan doa tanpa usaha bukanlah bentuk tawakal yang benar.

2. Membaca doa perlindungan dari rasa malas

Nabi ﷺ sering berlindung dari kelemahan dan kemalasan. Di antara doa beliau:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat pengecut dan kikir, lilitan utang, serta tekanan manusia. (HR. Al-Bukhari)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang kehilangan kebaikan karena dua hal. Pertama, ia tidak mampu melakukannya; inilah kelemahan. Kedua, ia mampu tetapi tidak mau melakukannya; inilah kemalasan. Karena itu, Nabi ﷺ memohon perlindungan dari keduanya.

3. Segera memulai dari langkah yang paling kecil

Rasa malas sering bertambah karena kita menunggu semangat datang. Padahal, semangat tidak selalu hadir sebelum berbuat; terkadang semangat muncul setelah seseorang mulai bergerak.

Jangan berkata, ‘Saya harus membaca satu juz,’ jika kalimat itu membuat kita tidak membuka mushaf sama sekali. Mulailah dengan satu halaman. Jangan menunggu mampu salat malam panjang; mulailah dengan dua rakaat. Jangan membayangkan seluruh pekerjaan; kerjakan bagian pertama yang dapat diselesaikan dalam beberapa menit.

4. Mengingat tujuan dan besarnya balasan

Pekerjaan terasa berat ketika tujuan di baliknya hilang dari pandangan. Ingatkan diri bahwa salat mendekatkan kita kepada Allah, belajar menghilangkan kebodohan, bekerja menunaikan amanah, dan membantu keluarga termasuk kebaikan.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah menuju ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran: 133)

5. Bangun, berzikir, berwudu, lalu salat

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setan mengikat manusia ketika tidur agar bangun dalam keadaan malas:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Setan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan ia berkata, ‘Malam masih panjang, tidurlah.’ Jika ia bangun lalu mengingat Allah, terlepas satu ikatan. Jika berwudu, terlepas ikatan berikutnya. Jika salat, seluruh ikatannya terlepas. Ia pun memasuki pagi dengan semangat dan jiwa yang baik. Jika tidak, ia memasuki pagi dengan jiwa yang buruk dan malas. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan langkah praktis untuk memulai hari: jangan berlama-lama di tempat tidur, segera berzikir, berwudu, dan melaksanakan salat. Awal pagi yang baik akan memengaruhi aktivitas setelahnya.

6. Menata waktu tidur dan mengurangi gangguan

Sulit bangun Subuh dan sulit memulai aktivitas sering kali berawal dari kebiasaan malam yang tidak tertata. Tentukan waktu berhenti dari kegiatan yang tidak perlu, letakkan perangkat yang mengganggu jauh dari tempat tidur, dan siapkan kebutuhan pagi sejak malam.

Menata lingkungan lebih mudah daripada terus-menerus melawan godaan. Jika hendak membaca, letakkan buku di tempat yang terlihat. Jika hendak berolahraga, siapkan pakaian sebelumnya. Jika hendak bekerja, bersihkan meja dari hal-hal yang tidak berhubungan dengan tugas.

7. Membuat target yang jelas dan realistis

Target yang terlalu umum sulit dilaksanakan. Ganti kalimat ‘Saya ingin lebih rajin’ menjadi tindakan yang dapat diukur: membaca dua halaman setelah Subuh, menyelesaikan satu tugas sebelum membuka hal lain, atau berjalan selama lima belas menit setelah Ashar.

Target kecil bukan berarti cita-cita kita kecil. Target kecil merupakan pintu masuk menuju kebiasaan besar. Setelah kebiasaan terbentuk, tingkatkan secara bertahap.

8. Memilih lingkungan yang bersemangat dalam kebaikan

Semangat mudah tumbuh ketika seseorang berada bersama orang-orang yang menjaga salat, mencintai ilmu, bekerja dengan amanah, dan saling mengingatkan. Carilah teman yang tidak hanya memahami kesulitan kita, tetapi juga berani mengajak kita bangkit.

Sebaliknya, terlalu banyak berkumpul dalam kegiatan yang tidak bermanfaat dapat membuat hati terbiasa menunda dan menghabiskan waktu. Persahabatan yang baik bukan hanya membuat kita nyaman, tetapi membantu kita taat.

9. Jangan hanya menunggu kemudahan

Ketika Maryam ‘alaihassalam berada dalam kondisi lemah setelah melahirkan, Allah menyediakan kurma di atas pohon. Namun Allah tetap memerintahkannya melakukan sebab:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS. Maryam: 25)

Allah mampu menjatuhkan kurma tanpa usaha Maryam. Namun ayat ini mengajarkan agar seorang hamba mengambil sebab sesuai kemampuannya. Pertolongan Allah tidak menjadikan kita pasif; justru keyakinan kepada-Nya mendorong kita bergerak.

Program Tujuh Hari Melawan Rasa Malas

Perubahan akan lebih terasa apabila ilmu langsung diubah menjadi amal. Berikut latihan sederhana selama tujuh hari:

  1. Hari pertama: catat tiga perkara yang paling sering ditunda dan tuliskan alasan mengapa perkara itu penting.
  2. Hari kedua: pilih satu pekerjaan dan mulai hanya selama lima menit tanpa menunggu semangat.
  3. Hari ketiga: tidur lebih awal dan siapkan kebutuhan untuk bangun Subuh.
  4. Hari keempat: baca doa perlindungan dari rasa malas setiap pagi dan petang dengan memahami artinya.
  5. Hari kelima: selesaikan satu tugas penting sebelum membuka hal-hal yang mengganggu.
  6. Hari keenam: ajak seorang teman atau anggota keluarga saling mengingatkan satu kebiasaan baik.
  7. Hari ketujuh: lakukan evaluasi. Pertahankan kebiasaan yang berhasil dan kecilkan target yang masih terlalu berat.

Muhasabah: Apakah Saya Benar-Benar Tidak Mampu?

Sebelum kembali menunda, tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar tidak mampu, atau sebenarnya mampu tetapi tidak mau memulai?” Jika memang tidak mampu, carilah bantuan dan jalan yang lebih sesuai. Jika sebenarnya mampu, ucapkan bismillah dan kerjakan langkah pertama sekarang juga.

Jangan menunggu menjadi orang yang sepenuhnya bersemangat. Orang yang istiqamah bukanlah orang yang selalu merasa ringan, tetapi orang yang tetap berjalan ketika perasaan berat datang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah rasa malas termasuk dosa?

Rasa berat yang muncul dalam hati tidak selalu menjadi dosa. Namun kemalasan dapat berdosa apabila menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban, menelantarkan amanah, atau merugikan hak orang lain. Karena itu, rasa malas harus segera dilawan sebelum berubah menjadi perbuatan yang terlarang.

Apa doa untuk menghilangkan rasa malas?

Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ adalah: “Allahumma inni a‘udzu bika minal-hammi wal-hazan, wal-‘ajzi wal-kasal...” yang berarti memohon perlindungan dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, dan berbagai kesulitan lainnya.

Mengapa saya malas beribadah padahal mengetahui keutamaannya?

Pengetahuan belum tentu langsung melahirkan tindakan. Penyebabnya dapat berupa lemahnya tujuan, kebiasaan menunda, banyaknya gangguan, dosa yang tidak ditaubati, atau pola hidup yang tidak tertata. Mulailah dengan memperbaiki kewajiban, bertaubat, berdoa, dan menjaga amal kecil secara konsisten.

Bagaimana cara melawan malas ketika tidak memiliki semangat?

Jangan menunggu semangat. Kerjakan tindakan paling kecil yang dapat dilakukan sekarang: berdiri, berwudu, membuka buku, atau mengerjakan tugas selama lima menit. Memulai sering kali lebih penting daripada menunggu perasaan siap.

Apakah istirahat berarti malas?

Tidak. Istirahat yang cukup membantu tubuh menunaikan kewajiban dan aktivitas dengan baik. Yang tercela ialah meninggalkan kewajiban atau perkara bermanfaat karena enggan bergerak padahal mampu. Islam mengajarkan keseimbangan antara menunaikan hak tubuh dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan.

Kesimpulan

Cara mengatasi rasa malas dalam Islam dimulai dengan memahami bahwa taufik berasal dari Allah, kemudian disertai usaha nyata. Kenali penyebabnya, baca doa perlindungan dari kemalasan, mulai dari langkah kecil, tata waktu tidur, kurangi gangguan, pilih lingkungan yang baik, dan ingat tujuan akhirat.

Jangan meremehkan satu langkah kecil. Satu halaman Al-Qur’an yang dibaca hari ini lebih baik daripada rencana satu juz yang terus ditunda. Dua rakaat yang dikerjakan lebih baik daripada angan-angan panjang. Tugas yang dimulai selama lima menit lebih baik daripada menunggu semangat yang tidak kunjung datang.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kelemahan dan kemalasan, memberikan kekuatan untuk menunaikan kewajiban, serta menjadikan umur kita penuh dengan amal yang bermanfaat.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَنَسْأَلُكَ قُوَّةً فِي طَاعَتِكَ، وَبَرَكَةً فِي أَوْقَاتِنَا وَأَعْمَالِنَا

Ajakan Berbagi

Jika artikel ini bermanfaat, bagikan kepada keluarga dan sahabat yang sedang berusaha memperbaiki semangat beribadah dan menjalani aktivitas yang bermanfaat. Semoga setiap kebaikan yang lahir darinya menjadi pahala bagi kita semua.

Lanjutkan serial: Setelah berhasil memulai kebaikan, semangat dapat kembali menurun. Baca cara menghadapi futur dalam beribadah.

← Kembali ke semua artikel