Jika kita meninggal kampung halam dalam waktu yang cukup lama kira kira perasaan seperti apa yang akan kita rasakan?

Ada orang yang mungkin tinggal di tempat yang jauh lebih nyaman, memperoleh pekerjaan yang lebih baik, atau menikmati kehidupan yang lebih maju. Tetapi tetap saja ada sesuatu yang membuat hati rindu kepada tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Rindu kepada suasananya.

Kepada orang-orangnya.

Kepada makanan yang biasa dinikmati.

Bahkan terkadang kepada hal-hal sederhana yang dahulu tidak pernah dianggap istimewa.

Perasaan seperti ini bukan sesuatu yang aneh.

Mencintai tanah air merupakan bagian dari fitrah manusia.

Islam tidak datang untuk mencabut kecintaan tersebut dari hati manusia. Justru Islam mengarahkannya agar cinta kepada negeri tidak berhenti sebagai perasaan, apalagi berubah menjadi fanatisme yang berlebihan.

Cinta kepada tanah air seharusnya melahirkan tanggung jawab.

Seseorang yang benar-benar mencintai negerinya tentu tidak ingin melihat negeri itu rusak. Ia ingin masyarakatnya hidup aman, lingkungannya terjaga, fasilitas umumnya dirawat, generasi mudanya menjadi baik, dan kehidupan bersama berjalan dengan penuh keadilan serta ketenteraman.

Di situlah cinta tanah air dalam Islam memperoleh maknanya.

Cinta Tanah Air Adalah Fitrah Manusia

Manusia biasanya memiliki ikatan yang kuat dengan tempat ia tumbuh.

Di sanalah masa kecilnya dilewati.

Di sanalah keluarganya berada.

Di sanalah tersimpan berbagai kenangan yang membentuk sebagian perjalanan hidupnya.

Karena itu, seseorang yang pergi jauh sering merasakan kerinduan kepada kampung halamannya.

Islam mengakui naluri tersebut.

Bahkan Al-Qur’an menggambarkan betapa beratnya seseorang ketika harus meninggalkan negerinya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ

“Seandainya Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.”
(QS. An-Nisa’: 66)

Dalam ayat tersebut, keluar dari kampung halaman disebut berdampingan dengan sesuatu yang sangat berat bagi manusia.

Ini menunjukkan bahwa keterikatan manusia dengan tempat tinggal dan tanah kelahirannya memang merupakan sesuatu yang kuat dalam jiwa.

Maka jangan merasa aneh jika seseorang yang bertahun-tahun hidup jauh dari kampung halaman masih berkata:

“suatu saat saya tetap ingin pulang.”

Ada sesuatu yang tidak selalu dapat dihitung dengan ukuran materi.

Rasulullah ﷺ Pun Mencintai Makkah

Salah satu dalil paling jelas tentang bolehnya mencintai tanah air adalah kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Makkah.

Ketika beliau harus meninggalkan Makkah karena tekanan kaum musyrikin, beliau mengungkapkan kecintaannya kepada negeri tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi Allah yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak akan keluar.”
(HR. At-Tirmidzi)

Bayangkan keadaan Rasulullah ﷺ ketika itu.

Makkah adalah tempat beliau dilahirkan.

Di sana beliau tumbuh.

Di sana keluarga dan kerabat beliau hidup.

Di sana pula Ka’bah berada.

Namun orang-orang musyrik memaksa beliau meninggalkan negeri yang dicintainya.

Ucapan Rasulullah ﷺ tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada tempat kelahiran merupakan sesuatu yang manusiawi dan tidak bertentangan dengan iman.

Bahkan manusia paling mulia pun merasakan kerinduan kepada tanah kelahirannya.

Setelah Hijrah, Rasulullah ﷺ Juga Mencintai Madinah

Menariknya, kecintaan Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada Makkah.

Setelah berhijrah dan menetap di Madinah, kota tersebut menjadi tempat tinggal baru beliau.

Di sana masyarakat Islam dibangun.

Di sana para Muhajirin dan Anshar hidup bersama.

Dan Rasulullah ﷺ pun berdoa:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ada pelajaran yang indah di sini.

Seseorang dapat mencintai tempat kelahirannya dan pada saat yang sama mencintai tempat ia tinggal, bekerja, membesarkan keluarga, dan menjalani kehidupannya.

Artinya, cinta kepada tanah air bukan hanya soal tempat seseorang dilahirkan.

Ia juga berkaitan dengan tempat yang menjadi rumah, tempat ia mendapatkan keamanan, menjalani kehidupan, mencari rezeki, beribadah, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Apakah “Hubbul Wathan Minal Iman” Merupakan Hadis?

Kita sering mendengar ungkapan:

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ

“Cinta tanah air adalah bagian dari iman.”

Kalimat ini sangat populer.

Bahkan tidak jarang ia disebut sebagai “hadis Nabi”.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Ungkapan tersebut tidak boleh kita nisbatkan kepada Rasulullah ﷺ sebagai hadis yang sahih.

Mencintai tanah air memiliki dasar dan makna yang dapat dibenarkan dalam Islam. Kita juga memiliki dalil-dalil yang cukup tentang kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Makkah dan Madinah.

Karena itu, kita sebenarnya tidak membutuhkan riwayat yang tidak sahih untuk membuktikannya.

Ini merupakan pelajaran penting.

Tujuan yang baik tetap harus ditempuh dengan cara yang benar.

Jika ingin berbicara tentang cinta tanah air, gunakan ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ yang dapat dipertanggungjawabkan.

Catatan penting: Tujuan yang baik tetap harus ditempuh dengan cara yang benar. Gunakan ayat Al-Qur’an dan hadis sahih ketika menjelaskan cinta tanah air.

Cinta Tanah Air Bukan Berarti Mengagungkan Negeri Secara Berlebihan

Di sisi lain, Islam juga memberikan keseimbangan.

Mencintai tanah air bukan berarti menjadikan negeri sebagai sesuatu yang disucikan tanpa batas.

Seorang muslim tidak menempatkan kecintaan kepada negeri melebihi ketaatannya kepada Allah.

Kita mencintai negeri karena di sanalah kita hidup, berkeluarga, mencari rezeki, beribadah, dan membangun kehidupan.

Namun kecintaan itu tetap berada di bawah tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Inilah perbedaan antara cinta yang sehat dengan fanatisme yang berlebihan.

Cinta yang sehat membuat seseorang ingin memperbaiki.

Fanatisme membuat seseorang merasa bahwa semua yang berasal dari kelompok atau negerinya pasti benar.

Cinta yang sehat mampu melihat kekurangan untuk kemudian memperbaikinya.

Fanatisme justru menolak nasihat.

Islam mengajarkan kecintaan yang membangun, bukan kecintaan yang membutakan.

Cinta Tanah Air Tidak Cukup dengan Kata-Kata

Mudah mengatakan:

“Saya cinta negeri ini.”

Tetapi pertanyaannya:

Apa yang kita lakukan untuk negeri ini?

Sebab cinta selalu memiliki konsekuensi.

Jika kita mengatakan mencintai keluarga, tentu kita akan menjaga dan memperhatikan keluarga.

Jika kita mengatakan mencintai masjid, kita akan berusaha memakmurkan dan menjaganya.

Demikian pula cinta kepada tanah air.

Ia seharusnya terlihat dalam perilaku.

1. Menjaga Keamanan dan Ketenteraman

Keamanan adalah nikmat yang terkadang baru terasa nilainya ketika hilang.

Bayangkan apabila setiap hari seseorang khawatir keluar rumah.

Anak-anak tidak dapat belajar dengan tenang.

Orang tidak dapat bekerja.

Masjid tidak dapat digunakan dengan aman.

Perdagangan berhenti.

Masyarakat hidup dalam ketakutan.

Karena itu, salah satu bentuk mencintai negeri adalah tidak menjadi penyebab rusaknya keamanan.

Jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Jangan mudah terprovokasi.

Jangan menjadi bagian dari tindakan yang merusak kehidupan masyarakat.

Seorang muslim seharusnya menghadirkan rasa aman bagi orang di sekitarnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita benar-benar mencintai tanah air, mulailah dengan memastikan orang lain tidak mendapatkan keburukan dari tangan dan lisan kita.

2. Menjaga Persatuan dan Tidak Mudah Memecah Belah

Sebuah negeri tidak mungkin dibangun hanya oleh satu orang.

Kita hidup bersama jutaan manusia dengan latar belakang, karakter, pekerjaan, suku, bahasa daerah, kebiasaan, dan kemampuan yang berbeda.

Perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali ’Imran: 103)

Imam thabari mengatakan dalam menafsirkan ayat diatas :

وتعلقوا بأسباب الله جميعًا. يريد بذلك تعالى ذكره: وتمسَّكوا بدين الله الذي أمركم به، وعهده الذي عَهده إليكم في كتابه إليكم، من الألفة والاجتماع على كلمة الحق، والتسليم لأمر الله.

“Berpegang teguhlah kalian kepada agama Allah yang telah Dia perintahkan kepada kalian, dan kepada perjanjian yang telah Dia tetapkan bagi kalian dalam Kitab-Nya, yaitu berupa persatuan dan kebersamaan di atas kalimat yang benar, serta tunduk dan patuh kepada perintah Allah.”

Persatuan bukan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama.

Kita mungkin berbeda pandangan dalam banyak urusan.

Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak, saling mencaci, menyebarkan kebencian, atau merasa bahwa orang yang berbeda dengan kita otomatis menjadi musuh.

Terkadang kontribusi terbesar kepada negeri dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:

belajar berbeda tanpa saling membenci.

3. Menjaga Fasilitas dan Kekayaan Bersama

Jalan, sekolah, taman, rumah sakit, tempat pelayanan masyarakat, kendaraan umum, sarana air, dan berbagai fasilitas lainnya bukanlah milik “orang lain”.

Itu adalah fasilitas yang digunakan bersama.

Merusaknya berarti merugikan masyarakat.

Mengotori fasilitas umum lalu merasa bukan urusan kita juga merupakan sikap yang perlu diperbaiki.

Cinta kepada tanah air tidak hanya muncul ketika berbicara tentang hal-hal besar.

Ia dapat terlihat dari kebiasaan sederhana:

membuang sampah pada tempatnya,

tidak merusak fasilitas umum,

menghemat sumber daya,

menjaga lingkungan,

dan tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak bersama untuk kepentingan pribadi.

Hal-hal kecil seperti ini mungkin tidak mendapat tepuk tangan.

Tetapi justru di situlah kejujuran sebuah kecintaan diuji.

4. Menjalankan Amanah dan Menjauhi Korupsi

Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai negerinya tetapi mengambil harta yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat?

Cinta tanah air tidak dapat dipisahkan dari amanah.

Allah Ta’ala memperingatkan:

وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa berkhianat dalam urusan harta, kelak pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu.”
(QS. Ali ’Imran: 161)

Korupsi bukan hanya persoalan angka.

Di balik uang yang diambil secara tidak benar mungkin ada jalan yang tidak selesai, sekolah yang kehilangan fasilitas, pelayanan kesehatan yang berkurang, atau masyarakat yang kehilangan haknya.

Maka salah satu bentuk cinta kepada negeri adalah menjaga amanah sekecil apa pun posisi kita.

Tidak semua orang menjadi pejabat.

Tetapi semua orang memiliki amanah.

5. Memberikan Kontribusi Sesuai Kemampuan

Tidak semua orang dapat memberikan kontribusi dengan cara yang sama.

Guru membangun negeri melalui pendidikan.

Pedagang melalui kejujuran dan usaha yang bermanfaat.

Dokter melalui pelayanan kesehatan.

Petani melalui hasil pertaniannya.

Orang tua melalui pendidikan anak-anaknya.

Pelajar melalui kesungguhan belajar.

Para dai melalui bimbingan agama dan akhlak.

Pekerja melalui profesionalitas.

Tidak perlu menunggu melakukan sesuatu yang besar untuk merasa telah berkontribusi kepada tanah air.

Terkadang sebuah negeri menjadi baik karena jutaan orang melakukan pekerjaan kecil mereka dengan benar.

Maka tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa yang dapat saya berikan dari posisi saya hari ini?”

6. Mendidik Generasi yang Mencintai dan Membangun Negerinya

Cinta kepada tanah air perlu ditanamkan sejak rumah.

Namun jangan hanya mengajarkan anak untuk menghafal slogan.

Ajarkan mereka maknanya.

Ketika anak membuang sampah sembarangan, ajarkan bahwa lingkungan ini milik bersama.

Ketika menggunakan fasilitas umum, ajarkan untuk menjaganya.

Ketika berbeda dengan orang lain, ajarkan sopan santun.

Ketika mendapatkan tugas, biasakan menyelesaikannya dengan amanah.

Ketika belajar, tanamkan bahwa ilmu yang diperoleh suatu hari harus memberikan manfaat kepada orang lain.

Di sekolah pun demikian.

Pendidikan cinta tanah air seharusnya tidak berhenti pada upacara dan hafalan.

Ia perlu diwujudkan menjadi karakter.

Jujur.

Disiplin.

Bertanggung jawab.

Menjaga kebersihan.

Menghormati sesama.

Menjaga persatuan.

Dan siap memberikan manfaat.

Inilah pendidikan cinta tanah air yang akan bertahan jauh lebih lama daripada slogan.

Tantangan Cinta Tanah Air di Zaman Sekarang

Kita hidup di zaman ketika dunia seakan semakin kecil.

Dalam hitungan detik kita dapat mengetahui apa yang terjadi di negara lain.

Seseorang dapat belajar dari luar negeri, bekerja untuk perusahaan yang berada ribuan kilometer jauhnya, berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara, dan menikmati budaya dari berbagai belahan dunia.

Semua itu membawa banyak manfaat.

Namun jangan sampai keterbukaan terhadap dunia membuat kita kehilangan kepedulian kepada lingkungan sendiri.

Kita boleh belajar dari kemajuan bangsa lain.

Kita boleh mengambil hal-hal baik dari mana pun.

Namun pertanyaan akhirnya tetap:

Apa yang kemudian kita berikan kepada masyarakat tempat kita hidup?

Generasi muda khususnya perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi penonton kemajuan bangsa lain.

Mereka perlu memiliki ilmu, keterampilan, akhlak, dan semangat untuk turut membangun negerinya.

Jangan Hanya Mencintai Negeri Ketika Sedang Berhasil

Cinta yang sesungguhnya tidak hanya hadir ketika semuanya menyenangkan.

Ketika negeri sedang memiliki banyak kekurangan, mungkin justru saat itulah kontribusi kita paling dibutuhkan.

Tentu kita boleh mengkritik.

Bahkan nasihat dan koreksi adalah bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Namun ada perbedaan antara mengkritik karena ingin memperbaiki dan mencela karena ingin merendahkan.

Orang yang mencintai tidak menutup mata dari kekurangan.

Tetapi ia juga tidak bergembira melihat kerusakan.

Ia menginginkan perubahan menuju sesuatu yang lebih baik.

Kritik disampaikan dengan ilmu.

Nasihat disampaikan dengan adab.

Dan perbaikan ditempuh dengan cara yang tidak melahirkan kerusakan yang lebih besar.

Indonesia Tidak Hanya Membutuhkan Orang yang Mengatakan “Saya Cinta Tanah Air”

Pada akhirnya, sebuah negeri tidak menjadi lebih baik hanya karena rakyatnya pandai mengucapkan kata-kata tentang cinta.

Negeri membutuhkan orang-orang yang jujur.

Guru yang benar-benar mendidik.

Pelajar yang sungguh-sungguh belajar.

Pegawai yang menjaga amanah.

Pedagang yang tidak menipu.

Pemimpin yang memikirkan rakyatnya.

Orang tua yang mendidik anak-anaknya.

Pemuda yang menggunakan tenaga dan ilmunya untuk kebaikan.

Dan masyarakat yang tidak mudah diadu domba.

Di situlah cinta kepada tanah air berubah dari perasaan menjadi amal.

Penutup: Cinta Tanah Air Adalah Amanah

Mencintai tempat kita lahir dan tumbuh adalah sesuatu yang manusiawi.

Rasulullah ﷺ mencintai Makkah.

Ketika menetap di Madinah, beliau juga berdoa agar Allah menanamkan kecintaan kepada Madinah.

Islam tidak memusuhi perasaan tersebut.

Namun Islam mengajarkan agar cinta tidak berhenti pada rasa.

Cinta harus melahirkan tanggung jawab.

Jika kita mencintai negeri ini, maka jagalah keamanannya.

Jagalah persatuannya.

Rawat fasilitasnya.

Jangan mengambil hak masyarakat.

Berikan kontribusi sesuai kemampuan.

Didik anak-anak agar menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.

Tidak semua dari kita dapat melakukan sesuatu yang besar untuk negara.

Tetapi setiap orang dapat melakukan sesuatu.

Mulailah dari tempat kita berada.

Dari keluarga kita.

Dari sekolah kita.

Dari pekerjaan kita.

Dari lingkungan kita.

Dan dari amanah yang Allah berikan kepada kita hari ini.

Sebab cinta tanah air yang paling bernilai bukanlah yang paling sering diucapkan.

Tetapi yang paling nyata terlihat dalam kebaikan yang kita berikan kepada negeri dan masyarakat tempat kita hidup.

← Kembali ke semua artikel