Ketika Masalahnya Bukan Lagi Kurangnya Dalil
Tidak semua orang menolak kebenaran karena tidak tahu. Ada orang yang memang belum memahami. Ada yang masih memiliki syubhat. Ada pula yang membutuhkan waktu untuk mempelajari dalil dengan lebih baik.
Namun ada keadaan yang lebih berbahaya: seseorang sudah mengetahui bahwa sesuatu itu benar, tetapi mengikutinya terasa terlalu mahal karena ia mulai menghitung. Kalau saya mengakui selama ini saya salah, bagaimana pandangan orang kepada saya? Bagaimana dengan jemaah yang selama ini mengikuti saya? Bagaimana dengan tulisan dan ceramah yang sudah tersebar? Bagaimana dengan nama yang saya bangun bertahun-tahun?
Di titik ini, yang berhadapan bukan lagi dalil dengan kebodohan, melainkan kebenaran dengan ego, kedudukan, dan rasa takut kehilangan penerimaan manusia. Kisah Abdullah bin Salam رضي الله عنه memberi pelajaran berharga tentang hal ini.
Abdullah bin Salam: Ketika Orang Terpandang Memilih Kebenaran
Abdullah bin Salam adalah seorang alim dari kalangan Yahudi Madinah. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, ia datang menemui beliau dan mengajukan beberapa pertanyaan yang, menurutnya, hanya bisa dijawab oleh seorang nabi: tanda pertama Hari Kiamat, makanan pertama penghuni surga, dan sebab seorang anak menyerupai ayah atau paman dari pihak ibunya.
Setelah mendengar jawaban Rasulullah ﷺ, ia tidak mencari alasan untuk menunda:
أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ
“Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”
Ia lalu berkata bahwa kaumnya adalah kaum yang suka memfitnah. Jika mereka tahu keislamannya sebelum Rasulullah ﷺ bertanya tentang dirinya, mereka pasti mencelanya. Maka ia meminta beliau menanyakan kedudukannya kepada mereka lebih dulu, sementara ia bersembunyi di dalam rumah.
Ketika orang-orang Yahudi datang, Rasulullah ﷺ bertanya, “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di tengah kalian?” Mereka menjawab:
أخيرنا وابن خيرنا، وأفضلنا وابن أفضلنا،
“Dia adalah orang terbaik di antara kami dan putra orang terbaik di antara kami. Dia adalah orang paling mulia di antara kami dan putra orang paling mulia di antara kami.”
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana jika ia masuk Islam?” Mereka berkata, “Semoga Allah melindunginya dari hal itu.”
Abdullah bin Salam pun keluar menemui mereka dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Seketika pujian itu berbalik:
شَرُّنَا وَابْنُ شَرِّنَا
“Dia orang terburuk di antara kami dan putra orang terburuk di antara kami.”
(HR. Bukhari no. 3329)
Berapa lama ia berubah dari “orang terbaik” menjadi “orang terburuk”? Hanya sekejap. Ilmunya tidak berkurang, akhlaknya tidak berubah, nasabnya sama. Yang berubah adalah satu hal: ia masuk Islam dan tidak lagi sejalan dengan keinginan kaumnya.
Pujian Manusia Itu Rapuh
Pelajaran pertama dari kisah ini: jangan menggantungkan harga diri pada pujian manusia. Orang yang sama bisa memuji kita hari ini dan mencela kita besok, hanya karena kita memilih dalil.
Seandainya Abdullah bin Salam menjadikan penerimaan masyarakat sebagai ukuran, bisa jadi hatinya berbisik, “Saya sudah memiliki kedudukan. Saya dikenal sebagai seorang alim. Orang-orang menghormati saya. Untuk apa saya kehilangan semuanya?”
Namun ia memilih sesuatu yang lebih besar daripada popularitas.
Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه berkata:
مَا سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لِأَحَدٍ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ
“Aku tidak pernah mendengar Nabi ﷺ mengatakan kepada seseorang yang masih berjalan di muka bumi bahwa ia termasuk penghuni surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam.” (HR. Bukhari no. 3812 dan Muslim no. 2483)
Ini menunjukkan besarnya kemuliaan di sisi Allah bagi orang yang mengutamakan kebenaran atas pujian kaumnya.
Maka pertanyaan kita bukan sekadar “Apakah orang menyukai keputusan saya?”, melainkan: “Apakah keputusan saya diridai Allah?”
Mengetahui Kebenaran, tetapi Tetap Menolaknya
Al-Qur’an menunjukkan bahwa penolakan tidak selalu lahir dari ketidaktahuan. Tentang Fir‘aun dan kaumnya, Allah جل جلاله berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal diri mereka meyakini (kebenaran)-nya.” (QS. An-Naml: 14)
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa mereka sebenarnya yakin dalam diri mereka bahwa ayat-ayat itu benar dari Allah, tetapi tetap mengingkarinya karena kezaliman dan keangkuhan.
Jadi kadang yang dibutuhkan bukan tambahan dalil, melainkan kerendahan hati untuk tunduk pada dalil yang sudah jelas.
Kesombongan yang Tidak Kita Sadari
Kita sering membayangkan orang sombong sebagai orang yang berjalan angkuh atau memamerkan harta. Rasulullah ﷺ memberi batasan yang lebih dalam:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa
بَطَرُ الْحَقِّ فَهُوَ دَفْعُهُ وَإِنْكَارُهُ تَرَفُّعًا وَتَجَبُّرًا
“Adapun menolak kebenaran adalah menampiknya dan mengingkarinya karena merasa tinggi dan sombong.” (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanihi).
Maka seseorang bisa tampil sangat sederhana, tetapi menyimpan kesombongan di hati. Misalnya, ia tidak sanggup menerima kebenaran hanya karena yang menyampaikan lebih muda, bukan gurunya, bukan dari kelompoknya, atau karena menerimanya berarti harus berkata, “Selama ini saya keliru.”
Ketika Kedudukan Membuat Kebenaran Terasa Mahal
Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahud wan Nashara menyebut berbagai penghalang diterimanya kebenaran, di antaranya kebodohan, permusuhan terhadap pembawa kebenaran, kebiasaan warisan, dan keterikatan pada lingkungan.
Kemudian beliau mengatakan:
فإن انضاف إلى ذلك توهمه أن الحق الذي دعي إليه يحول بينه وبين جاهه وعزه وشهواته وأغراضه قوي المانع من القبول جدا
“Apabila ditambah lagi dengan anggapannya bahwa kebenaran yang diserukan kepadanya akan menghalanginya dari kedudukan, kemuliaan, kenikmatan, dan berbagai kepentingannya, maka penghalang untuk menerima kebenaran itu menjadi sangat kuat.” (Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahud wan Nashara, Juz 1, Hal. 244)
Ucapan ini terasa relevan hingga kini. Dahulu orang takut kehilangan kedudukan di kabilahnya. Hari ini ia takut kehilangan jemaah, murid, pengikut, penonton, undangan, atau citra yang dibangun bertahun-tahun, hanya karena satu kalimat: “Saya salah dalam masalah ini.” Popularitas yang semula nikmat pun berubah menjadi penjara.
Cinta Kedudukan Bisa Bersembunyi
Penyakit ini berbahaya karena halus. Ibnu Taimiyah رحمه الله menyebutkan dalam Majmu Fatawanya :
أن كثيرا من الناس يكون في نفسه حب الرياسة كامن لا يشعر به بل إنه مخلص في عبادته وقد خفيت عليه عيوبه
“Sesungguhnya banyak orang di dalam dirinya terdapat kecintaan terhadap kepemimpinan yang tersembunyi, tanpa ia menyadarinya. Bahkan, ia bisa saja benar-benar ikhlas dalam ibadahnya, namun berbagai cacat dan kekurangan dalam dirinya tidak ia sadari.”
Beliau kemudian menyebut bahwa ketika Abu Dawud as-Sijistani ditanya tentang الشهوة الخفية, “syahwat yang tersembunyi”, ia menjawab:
حُبُّ الرِّيَاسَةِ
“Cinta terhadap kepemimpinan atau kedudukan.”
Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa penyakit itu terkadang tersembunyi bukan hanya dari manusia lain, bahkan dari pemilik hati itu sendiri. (Majmu’ al-Fatawa, Juz 16, hlm. 346)
Karena itu jarang ada orang berkata, “Saya menolak dalil ini karena takut kehilangan popularitas.” Jiwa biasanya mencari alasan yang lebih indah: “Saya menjaga konsistensi,” “Saya menjaga jemaah,” “Saya menjaga wibawa ilmu.” Bisa jadi alasan itu benar. Namun seorang mukmin perlu menguji dirinya:
“Seandainya tidak ada yang tahu pendapat saya sebelumnya, apakah saya masih akan mempertahankannya?”
Pendapat Bukan Identitas Diri
Sebagian orang sulit rujuk karena terlalu lama membangun identitas di atas satu pendapat. Ia menulis, mengajarkan, membuat video, dan membelanya, sampai orang mengenalnya lewat pendapat itu. Lalu datang dalil yang lebih kuat. Secara ilmiah jawabannya sederhana, yaitu ikuti dalil yang lebih kuat. Namun secara batin terasa seperti kehilangan sebagian diri.
Padahal diri kita bukan pendapat kita. Yang ditinggalkan adalah kekeliruannya, bukan kehormatan kita. Justru kehormatan seseorang bertambah ketika ia berani kembali kepada kebenaran.
Bedakan: Ijtihad yang Berbeda dan Menolak Kebenaran yang Jelas
Agar tidak salah paham: tulisan ini tidak mencela orang yang berpegang pada pendapat hasil ijtihadnya dalam masalah-masalah khilafiyah. Para ulama berbeda pendapat dengan ikhlas, dan itu luas. Yang dicela adalah menolak kebenaran setelah ia menjadi jelas, lalu bertahan karena gengsi, reputasi, atau takut kehilangan pengikut. Tulisan ini juga bukan sindiran untuk siapa pun, melainkan bahan muhasabah, pertama-tama untuk penulisnya sendiri.
Popularitas Bukan Masalah, Sampai Ia Menentukan Sikap Kita
Terkenal bukan dosa. Memiliki banyak jemaah atau pengikut juga bukan aib. Popularitas bahkan bisa menjadi nikmat besar jika Allah menjadikannya jalan menyebarkan ilmu dan kebaikan.
Masalahnya muncul ketika popularitas ikut menentukan apakah kita menerima atau menolak kebenaran. “Kalau saya meralat, saya ditertawakan.” “Kalau saya akui dia benar, bagaimana nama saya?” Pada titik itu kita perlu berhenti dan mengganti pertanyaannya: bukan “Apa kata pengikut saya?”, tetapi “Apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya?”
Berani Berkata “Saya Keliru”
Mencari kebenaran bukan berarti tidak pernah salah. Para ulama besar pun terkadang mengubah pendapat setelah mendapat dalil yang lebih kuat. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan setelah mengetahui diri kita keliru.
Kalimat “Dalil ini ternyata lebih kuat” berat bagi ego, tetapi ringan bagi hati yang mencari rida Allah. Sebaliknya, jika reputasi yang dikejar, tenaga kita habis bukan untuk mencari mana yang benar, melainkan agar kita tetap tampak benar.
Ujian Ini Bisa Menimpa Siapa Saja
Kita mungkin tidak terkenal, tetapi setiap orang punya “kedudukan” dalam lingkupnya: ayah di depan anak, guru di depan murid, ustaz di depan jemaah, pimpinan di depan bawahan, penulis di depan pembaca, kreator di depan pengikut. Maka ujian Abdullah bin Salam sangat dekat dengan hidup kita.
Ketika anak kita menunjukkan bahwa kita keliru, mampukah kita mengakuinya? Ketika murid membawa dalil yang lebih kuat, maukah kita menerimanya? Ketika orang yang tidak kita sukai mengatakan hal yang benar, sanggupkah kita berkata, “Dalam hal ini dia benar”?
Langkah Praktis Melatih Hati
Minta teguran dari orang tepercaya. Beri seseorang izin untuk mengoreksi kita tanpa kita merasa dihakimi.
Periksa niat saat mempertahankan pendapat. Pakai pertanyaan “Seandainya tidak ada yang tahu pendapat saya sebelumnya...”.
Biasakan tabayyun dan rujuk ke dalil, bukan ke siapa yang menyampaikan.
Berdoa memohon hidayah dan kerendahan hati, dan meneladani ulama yang rujuk dari pendapatnya. Lihatlah bagaimana Imam asy-Syafi‘i memiliki pendapat lama dan pendapat baru.
Penutup: Lebih Baik Kehilangan Pujian daripada Kehilangan Kebenaran
Abdullah bin Salam kehilangan penerimaan kaumnya. Pujian mereka berubah menjadi celaan. Namun ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: iman dan kabar gembira tentang surga.
Maka jangan sampai nama, kedudukan, jemaah, atau citra membuat kita kehilangan keberanian mengikuti kebenaran. Rasulullah ﷺ telah memberi ukuran yang jelas:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Ukuran keberhasilan bukan berapa lama kita mempertahankan sebuah pendapat, juga bukan berapa banyak orang di belakang kita. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika kebenaran telah jelas, masihkah kita punya keberanian untuk tunduk kepadanya?
Popularitas bisa menjadi nikmat, tetapi ia berubah menjadi fitnah ketika membuat kita tak sanggup memilih kebenaran karena takut kehilangan manusia. Maka belajarlah dari Abdullah bin Salam: lebih baik kehilangan sebagian pujian manusia daripada kehilangan kebenaran yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah.
Rujukan
Al-Qur’an, QS. An-Naml: 14.
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3329 (kisah keislaman Abdullah bin Salam).
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3812; Muslim, Shahih Muslim, no. 2483.
Muslim, Shahih Muslim, no. 91.
An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanihi.
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. An-Naml: 14.
Ibnul Qayyim, Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahud wan Nashara, pembahasan penghalang diterimanya kebenaran.
Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa.

