Ada banyak hal yang ingin kita kenal dalam kehidupan ini.
Kita ingin mengenal dunia tempat kita hidup. Kita mempelajari pekerjaan, teknologi, pendidikan, kesehatan, bahkan berusaha mengenal karakter orang-orang di sekitar kita.
Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting:
Seberapa jauh kita mengenal Allah yang telah menciptakan kita?
Seorang muslim mungkin telah mengenal banyak perkara tentang dunia, tetapi tidak ada pengetahuan yang lebih mulia daripada mengenal Rabb-nya.
Sebab ketika seseorang benar-benar mengenal Allah, ia akan memahami dari mana dirinya berasal, untuk apa ia hidup, kepada siapa ia beribadah, kepada siapa ia meminta pertolongan, dan ke mana akhirnya ia akan kembali.
Mengenal Allah bukan sekadar mengetahui bahwa Allah itu ada.
Kaum musyrikin dahulu pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Namun pengakuan semata belum cukup sampai seorang hamba memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.
Karena itu, mengenal Allah harus membawa seseorang kepada tauhid.
Mengenal Allah Melalui Tanda-Tanda Kekuasaan-Nya
Seluruh makhluk yang berada di alam semesta bergantung kepada Allah.
Langit yang terbentang luas, bumi yang kita pijak, pergantian malam dan siang, hujan yang turun, tumbuhan yang tumbuh, tubuh manusia yang begitu kompleks, hingga kehidupan yang terus berjalan dari satu generasi kepada generasi berikutnya; semuanya merupakan tanda yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’”
(QS. Ali 'Imran: 190–191)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak memandang alam hanya dengan mata.
Ia melihatnya dengan hati.
Ketika melihat langit, ia mengingat Allah.
Ketika melihat keteraturan alam, ia mengingat kekuasaan Allah.
Ketika melihat dirinya sendiri, ia menyadari betapa lemahnya manusia dan betapa sempurnanya Rabb yang menciptakannya.
Inilah salah satu jalan untuk semakin mengenal Allah: merenungkan ayat-ayat-Nya dan memperhatikan ciptaan-Nya.
Untuk Apa Kita Diciptakan?
Setelah mengenal bahwa Allah adalah Pencipta, muncul pertanyaan berikutnya:
Untuk apa Allah menciptakan kita?
Apakah kehidupan ini hanya tentang lahir, sekolah, bekerja, menikah, mencari penghasilan, menikmati dunia, lalu meninggal?
Allah tidak menciptakan manusia tanpa tujuan.
Allah Ta'ala telah menjelaskan tujuan terbesar penciptaan manusia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Inilah arah utama kehidupan seorang muslim.
Kita boleh bekerja.
Kita boleh membangun usaha.
Kita boleh menuntut ilmu, memiliki keluarga, mengejar prestasi, dan menikmati rezeki yang halal.
Tetapi semua itu berada di bawah tujuan yang lebih besar: menjadi hamba Allah.
Jika tujuan ini terlupakan, seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi kehilangan arah kehidupannya.
Sebaliknya, ketika tujuan ini dipahami, aktivitas dunia pun dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Tauhid Adalah Fondasi Agama
Setelah mengenal Allah, seorang muslim harus memahami tauhid.
Secara sederhana, tauhid adalah mengesakan Allah dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Tauhid bukan sekadar salah satu pembahasan dalam agama.
Tauhid adalah fondasi agama.
Inilah dakwah seluruh para rasul.
Para nabi datang kepada umatnya membawa seruan yang sama: agar manusia meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan hanya beribadah kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا
“Barang siapa mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.”
(QS. Al-Baqarah: 256)
Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas dalam perkara yang disembah, diikuti, atau ditaati.
Karena itu, tauhid bukan hanya mengakui keberadaan Allah, tetapi juga meninggalkan segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya.
Tiga Pembahasan Tauhid
Para ulama menjelaskan tauhid melalui tiga pembahasan utama:
- Tauhid Rububiyah
- Tauhid Uluhiyah
- Tauhid Asma' wa Shifat
Ketiganya membantu kita memahami siapa Allah dan bagaimana seharusnya hubungan seorang hamba dengan-Nya.
Dalam pembahasan ini, kita akan lebih menekankan dua perkara yang sangat mendasar, yaitu Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah.
Tauhid Rububiyah: Meyakini Allah Satu-Satunya Rabb
Tauhid Rububiyah adalah meyakini bahwa Allah satu-satunya Rabb seluruh alam.
Allah yang menciptakan.
Allah yang memberikan rezeki.
Allah yang menghidupkan.
Allah yang mematikan.
Allah pula yang mengatur seluruh makhluk.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’”
(QS. Yunus: 31)
Menariknya, kaum musyrikin pada zaman Rasulullah ﷺ juga mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur alam.
Mereka mengetahui bahwa hujan turun dengan kehendak Allah.
Mereka mengetahui bahwa Allah memberikan rezeki.
Mereka pun mengakui bahwa langit dan bumi adalah milik Allah.
Tetapi pengakuan tersebut belum menjadikan mereka sebagai orang yang mentauhidkan Allah dengan sempurna.
Mengapa?
Karena mereka masih memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah.
Di sinilah kita memahami sebuah pelajaran penting:
Mengenal Allah sebagai Pencipta harus membawa kita kepada penghambaan hanya kepada-Nya.
Tauhid Uluhiyah: Memurnikan Seluruh Ibadah kepada Allah
Tauhid Uluhiyah berarti mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah.
Jika Allah satu-satunya yang menciptakan kita, maka Allah pula satu-satunya yang berhak kita sembah.
Inilah hubungan yang sangat kuat antara Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Uluhiyah.
Kita tidak cukup hanya berkata:
“Saya percaya Allah yang memberi rezeki.”
Tetapi ketika membutuhkan pertolongan, hati harus bergantung kepada Allah.
Kita tidak cukup mengatakan:
“Allah yang mengatur hidup saya.”
Tetapi doa, tawakal, rasa takut, harapan, dan ibadah kita pun harus ditujukan kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapa pun bersama Allah.”
(QS. Al-Jin: 18)
Tauhid Uluhiyah adalah inti dari kalimat yang setiap hari kita ucapkan:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Lā ilāha illallāh.
Tidak ada sesembahan yang benar dan berhak disembah selain Allah.
Kalimat ini bukan sekadar ucapan di lisan.
Ia memiliki konsekuensi dalam seluruh kehidupan.
Ibadah Bukan Hanya Shalat dan Puasa
Sebagian orang mungkin memahami ibadah hanya sebagai shalat, puasa, zakat, atau haji.
Padahal ibadah memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Di antara bentuk ibadah adalah:
- doa;
- rasa takut kepada Allah;
- berharap kepada Allah;
- tawakal;
- khusyuk;
- kembali dan bertaubat kepada Allah;
- meminta pertolongan;
- meminta perlindungan;
- menyembelih kurban;
- bernazar;
- dan berbagai bentuk penghambaan lainnya.
Semua itu harus ditujukan hanya kepada Allah sesuai dengan tuntunan syariat.
Doa Adalah Ibadah
Ketika seseorang berdoa, ia sedang menunjukkan kebutuhan dan kelemahannya.
Ia mengakui bahwa dirinya tidak mampu berdiri sendiri.
Karena itu, doa merupakan bentuk penghambaan yang sangat agung.
Seorang mukmin meminta kepada Allah karena ia mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar.
Ia meminta pertolongan kepada Allah karena mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan izin-Nya.
Tawakal Hanya kepada Allah
Allah Ta'ala berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang-orang beriman.”
(QS. Al-Ma'idah: 23)
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha.
Seorang muslim tetap bekerja, berobat ketika sakit, belajar ketika menghadapi ujian, dan melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.
Namun hatinya tidak bergantung kepada sebab tersebut.
Ia melakukan usaha dengan anggota tubuh, tetapi hatinya bersandar kepada Allah.
Allah juga berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Hanya kepada Allah Kita Memohon Pertolongan
Setiap hari kita membaca dalam Surah Al-Fatihah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Perhatikan bagaimana ibadah dan permohonan pertolongan disebut bersamaan.
Seolah seorang hamba sedang berkata:
“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku beribadah. Dan untuk dapat menjalani ibadah dan kehidupan ini, aku pun membutuhkan pertolongan-Mu.”
Betapa lemahnya manusia jika Allah tidak menolongnya.
Kita membutuhkan pertolongan Allah untuk menjaga iman.
Kita membutuhkan pertolongan Allah untuk mendidik keluarga.
Kita membutuhkan pertolongan Allah untuk mencari rezeki.
Bahkan untuk melakukan sebuah kebaikan pun kita membutuhkan taufik dari-Nya.
Tauhid Mengubah Cara Kita Menjalani Kehidupan
Pembahasan tauhid tidak seharusnya berhenti sebagai teori.
Tauhid harus terasa dalam kehidupan.
Ketika mendapatkan rezeki, seorang yang memahami tauhid tidak hanya melihat pekerjaannya.
Ia melihat Allah yang memberikan rezeki melalui pekerjaan tersebut.
Ketika menghadapi kesulitan, ia melakukan ikhtiar tetapi hatinya tetap meminta pertolongan kepada Allah.
Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tidak merasa bahwa semuanya semata-mata karena kecerdasannya.
Ia bersyukur kepada Allah yang memberikan kemampuan dan kesempatan.
Ketika rencananya gagal, ia tidak kehilangan seluruh harapan.
Ia mengetahui bahwa Allah tetap mengatur kehidupannya.
Inilah buah mengenal Allah.
Semakin seseorang mengenal Rabb-nya, seharusnya semakin kuat tawakalnya, semakin banyak syukurnya, semakin besar harapannya kepada Allah, dan semakin takut dirinya terjatuh dalam kesyirikan.
Jangan Biarkan Tauhid Hanya Menjadi Pelajaran di Kelas
Sebagian dari kita mungkin pertama kali mempelajari Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, serta Asma' wa Shifat ketika berada di sekolah atau majelis ilmu.
Kita menghafal definisinya.
Kita mampu menyebutkan pembagiannya.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah tauhid tersebut telah hidup di dalam hati kita?
Ketika takut, kepada siapa hati pertama kali kembali?
Ketika mendapatkan nikmat, siapa yang pertama kali kita ingat?
Ketika menghadapi kesulitan, kepada siapa kita memohon?
Ketika beribadah, apakah kita benar-benar mengharapkan wajah Allah atau justru lebih sibuk memikirkan pandangan manusia?
Pertanyaan seperti inilah yang menjadikan pembahasan tauhid hidup dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Makna Lā Ilāha Illallāh dalam Kehidupan
Kalimat:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
adalah kalimat yang sangat agung.
Namun maknanya tidak cukup hanya dipahami sebagai “Allah itu ada”.
Maknanya adalah bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Allah.
Karena itu, orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh sedang menyatakan bahwa:
- Doanya untuk Allah.
- Shalatnya untuk Allah.
- Tawakalnya kepada Allah.
- Harapannya kepada Allah.
- Ketakutan yang merupakan ibadah ditujukan kepada Allah.
- Pengorbanannya untuk Allah.
- Dan seluruh kehidupannya ingin diarahkan untuk mencari keridhaan Allah.
Inilah tauhid yang dibawa oleh seluruh para rasul.
Mengenal Allah Membuat Hati Lebih Mengenal Tujuan Hidup
Banyak kegelisahan muncul karena manusia tidak lagi mengetahui untuk apa dirinya hidup.
Ketika ukuran kehidupan hanya materi, manusia akan terus merasa kurang.
Ketika ukuran keberhasilan hanya pujian manusia, hidup akan sangat melelahkan.
Ketika kebahagiaan sepenuhnya digantungkan kepada dunia, setiap kehilangan dapat mengguncang hati.
Tauhid mengembalikan manusia kepada pusat kehidupannya:
Allah.
Kita berasal dari-Nya.
Kita hidup dengan nikmat-Nya.
Kita beribadah kepada-Nya.
Dan suatu hari kita akan kembali kepada-Nya.
Maka semakin seseorang mengenal Allah, semakin jelas pula arah kehidupannya.
Penutup: Mulailah Mengenal Allah Lebih Dalam
Mengenal Allah bukan pembahasan yang selesai dalam satu kajian atau satu artikel.
Ia adalah perjalanan seumur hidup.
Kita mengenal Allah melalui ayat-ayat Al-Qur'an.
Kita mengenal-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Kita melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam alam semesta.
Dan kita merasakan nikmat serta pertolongan-Nya dalam perjalanan kehidupan.
Namun semua pengetahuan tersebut harus menghasilkan sesuatu yang sangat penting:
semakin murninya ibadah kita kepada Allah.
Jangan sampai kita mengetahui bahwa Allah adalah Pencipta tetapi hati justru bergantung kepada selain-Nya.
Jangan sampai kita mengetahui bahwa Allah adalah pemberi rezeki tetapi menghalalkan segala cara karena terlalu takut kehilangan dunia.
Jangan sampai kita membaca setiap hari:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
tetapi maknanya tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kehidupan kita.
Maka teruslah belajar mengenal Allah.
Semakin mengenal-Nya, semakin cintailah Dia.
Semakin berharaplah kepada-Nya.
Semakin bertawakallah kepada-Nya.
Dan semakin murnikan seluruh ibadah hanya untuk-Nya.
Sebab inilah tujuan terbesar kehidupan seorang muslim:
mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, beribadah kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya dalam keadaan membawa iman dan tauhid.
← Kembali ke daftar artikel
