Ada tempat yang ketika kita berada di dalamnya, hati terasa berbeda, suasana menjadi lebih tenang, kesibukan dunia seakan berhenti beberapa saat, pikiran yang sejak pagi dipenuhi pekerjaan, urusan keluarga, persoalan ekonomi, dan berbagai kesibukan perlahan diarahkan kembali kepada Allah.

Tempat itu adalah masjid.

Masjid bukan sekadar bangunan tempat orang berkumpul ketika waktu shalat tiba. Dalam kehidupan seorang muslim, masjid memiliki kedudukan yang jauh lebih besar.

Di sanalah seorang hamba bersujud kepada Rabb-nya. Di sanalah Al-Qur’an dibaca. Ilmu dipelajari. Doa dipanjatkan. Kesalahan dimohonkan ampun. Dan hati yang mulai keras kembali diingatkan kepada akhirat.

Tidak mengherankan jika Rasulullah ﷺ menyebut masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini seharusnya membuat kita bertanya kepada diri sendiri: Seberapa dekat hubungan hati kita dengan tempat yang paling dicintai Allah?

Masjid Adalah Rumah yang Dimakmurkan Orang Beriman

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)

Perhatikan bagaimana Allah menghubungkan memakmurkan masjid dengan iman dan hidayah.

Memakmurkan masjid bukan hanya membangun gedungnya. Tentu membangun, membersihkan, menjaga, dan merawat masjid adalah bagian dari memakmurkannya. Namun ada bentuk kemakmuran yang lebih besar: menghidupkan masjid dengan ibadah.

Shalat berjamaah, Membaca Al-Qur’an, Berdzikir, Belajar dan mengajarkan ilmu, Duduk menunggu shalat, Berdoa, Dan berbagai ketaatan lainnya.

Masjid yang indah tetapi jarang digunakan untuk ibadah belum menunjukkan kemakmuran yang sesungguhnya. Sebaliknya, betapa indah sebuah masjid ketika orang datang silih berganti untuk menyebut nama Allah.

Jangan Sampai Dunia Membuat Kita Melupakan Masjid

Allah menggambarkan orang-orang yang hatinya hidup dengan iman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۝ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ

“Di rumah-rumah yang telah Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang; laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.”
(QS. An-Nur: 36–37)

Perdagangan mereka tetap berjalan, Pekerjaan tetap dikerjakan, Kehidupan tidak berhenti,

Namun ketika urusan Allah memanggil, dunia tidak menguasai hati mereka, Inilah tantangan kita, Bukan berarti seorang muslim harus meninggalkan pekerjaan dan terus berada di masjid sepanjang hari.

Islam memerintahkan kita menjalankan tanggung jawab, Namun jangan sampai pekerjaan membuat adzan seperti tidak terdengar, Jangan sampai bisnis membuat shalat selalu dikerjakan di ujung waktu, Jangan sampai layar telepon lebih mampu menahan kita berjam-jam daripada mushaf dan masjid, Kita perlu bekerja, Tetapi jangan sampai hati menjadi milik dunia sepenuhnya.

Hati yang Terpaut pada Masjid

Di antara hadis paling indah tentang hubungan seorang mukmin dengan masjid adalah sabda Rasulullah ﷺ mengenai tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah.

Beliau bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya.”

Salah satunya:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ

“Seorang laki-laki yang hatinya terpaut kepada masjid.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kalimatnya.

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengatakan seseorang yang “sering pergi ke masjid”.

Tetapi:

hatinya terpaut kepada masjid.

Artinya, ada hubungan batin, Ia keluar dari masjid, tetapi hatinya ingin Kembali, selesai Subuh, ia menantikan Zuhur, selesai Zuhur, ia tahu beberapa jam lagi suara adzan kembali memanggil.

Masjid menjadi salah satu pusat kehidupannya.

Mengapa Hati Bisa Mencintai Masjid?

Kecintaan seperti ini tidak selalu muncul seketika, seseorang bisa saja awalnya merasa berat, berjalan menuju masjid terasa malas, duduk setelah shalat terasa lama, membaca Al-Qur’an beberapa halaman terasa sulit, tetapi ibadah memiliki kelezatan yang biasanya baru dirasakan setelah seseorang membiasakan dirinya.

Awalnya mungkin kita memaksa diri, kemudian menjadi kebiasaan, setelah menjadi kebiasaan, hati mulai merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak dirasakan, ada ketenangan ketika mendengar adzan, ada rasa kehilangan ketika tidak berjamaah, ada kerinduan ketika beberapa hari jauh dari masjid.

Inilah mengapa perjalanan menuju istiqamah sering membutuhkan mujahadah — kesungguhan melawan rasa malas dan keinginan diri.

Jangan menunggu hati ingin beribadah baru kemudian beribadah, kadang justru kita perlu beribadah terlebih dahulu sampai hati belajar mencintainya.

Setiap Langkah Menuju Masjid Tidak Sia-Sia

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه pernah menceritakan bagaimana para sahabat begitu menjaga shalat berjamaah.

Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang bersuci dengan baik kemudian berjalan menuju masjid akan mendapatkan pahala dalam setiap langkahnya.

Satu langkah mengangkat derajat, langkah lainnya menghapus kesalahan.

Ini membuat perjalanan ke masjid berubah makna, jalan yang mungkin hanya beberapa ratus meter ternyata bukan perjalanan biasa, setiap langkah dicatat, setiap langkah bisa menjadi penghapus dosa, setiap langkah dapat mengangkat kedudukan seorang hamba.

Kadang kita mengeluh karena masjid terasa agak jauh, padahal boleh jadi justru jarak itulah yang memperbanyak kebaikan.

Keluar Menuju Shalat Fardhu Seperti Pahala Orang Berhaji

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang keluar dari rumah dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat wajib:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ

“Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram.”
(HR. Abu Dawud, dihasankan Al-Albani)

Betapa besar kemurahan Allah, kita hanya diminta berwudhu, keluar rumah, berjalan menuju masjid, kemudian menunaikan kewajiban yang memang harus kita kerjakan, namun pahala yang Allah sediakan begitu besar, persoalannya sering kali bukan karena kesempatan beramal tidak ada, tetapi karena kita belum mengetahui besarnya nilai amal tersebut.

Keutamaan Bersegera ke Masjid pada Hari Jumat

Pahala menuju masjid menjadi semakin luar biasa pada hari Jumat.

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، فَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ، وَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ؛ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa siapa yang mandi pada hari Jumat, datang lebih awal, berjalan kaki, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah dengan baik, dan tidak melakukan hal sia-sia, setiap langkahnya mendapatkan pahala seperti berpuasa dan melakukan shalat malam selama satu tahun. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Dishahihkan oleh Al-Albani)

Bayangkan, satu langkah, pahalanya sebesar itu, hadis semacam ini bukan sekadar informasi untuk dikagumi, ia seharusnya mengubah kebiasaan, jika selama ini kita datang ketika khutbah hampir selesai, mungkin sudah waktunya memperbaiki.

Datanglah lebih awal, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, kemudian duduk mendengarkan khutbah dengan tenang, kita tidak tahu amal kecil mana yang kelak membuat timbangan kebaikan menjadi berat.

Duduk Menunggu Shalat Pun Bernilai Shalat

Salah satu keuntungan terbesar berada di masjid adalah banyaknya pahala yang dapat diperoleh bahkan ketika kita hanya menunggu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ لَمْ تَزَالُوا فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمُ الصَّلَاةَ

“Kalian senantiasa berada dalam keadaan shalat selama kalian menunggu shalat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Seseorang mungkin hanya duduk, tetapi niatnya adalah menunggu shalat, maka waktu menunggunya tidak kosong, bayangkan jika kebiasaan ini kita hidupkan.

Datang lima belas menit sebelum adzan, atau setelah Maghrib tidak segera pulang karena menunggu Isya, waktu itu dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an, beristighfar, menghafal beberapa ayat, membaca buku, atau sekadar duduk menenangkan hati sambil menunggu shalat.

Di luar masjid, lima belas menit mungkin habis untuk scrolling tanpa arah, di masjid, lima belas menit dapat berubah menjadi bekal akhirat.

Malaikat Mendoakan Orang yang Tetap Berada di Tempat Shalatnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

“Para malaikat mendoakan salah seorang dari kalian selama ia masih berada di tempat shalatnya dan belum berhadats: ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kita sering meminta orang saleh mendoakan kita, tetapi di sini Rasulullah ﷺ menunjukkan sebuah amal yang membuat para malaikat mendoakan kita, doanya pun bukan perkara kecil: ampunan dan rahmat Allah.

Maka jangan selalu tergesa-gesa meninggalkan masjid setelah salam, selesaikan zikir, berdoalah, duduklah beberapa saat, berikan kesempatan kepada hati untuk benar-benar merasakan ibadah yang baru saja dilakukan.

Shalat Sunnah Menyempurnakan Kekurangan Shalat Wajib

Semakin lama seseorang membiasakan diri berada di masjid, semakin besar kesempatan melakukan ibadah-ibadah sunnah.

Salah satunya shalat sunnah, dan kita sangat membutuhkan shalat sunnah karena shalat wajib kita hampir pasti memiliki banyak kekurangan, ada yang kurang khusyuk, pikiran ke mana-mana, gerakan terburu-buru, bacaan kurang dihayati.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika shalat wajib seorang hamba memiliki kekurangan, Allah memerintahkan agar dilihat apakah ia memiliki amalan shalat sunnah untuk menyempurnakannya.

Maka jangan meremehkan dua rakaat.

Dua rakaat sebelum Subuh, rawatib Zuhur, ba’diyah Maghrib dan Isya, dhuha, qiyamul lail, boleh jadi amal-amal sunnah itulah yang suatu hari menambal begitu banyak kekurangan kita.

Amal Sunnah Adalah Jalan Menuju Kecintaan Allah

Dalam hadis qudsi yang agung, Allah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
(HR. Bukhari)

Tujuan tertinggi ibadah ternyata bukan hanya mendapatkan pahala, ada sesuatu yang lebih besar: dicintai Allah.

Dan jalannya dimulai dari menjaga kewajiban, kemudian memperbanyak amalan sunnah, masjid menyediakan begitu banyak kesempatan untuk itu.

Datang Lebih Awal Membuka Waktu untuk Berdoa

Ada satu kesempatan lain yang sering terlewat, waktu antara adzan dan iqamah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak.”

Maka datang ke masjid lebih awal bukan sekadar agar mendapatkan shaf depan, kita sedang memperoleh waktu khusus untuk berdoa, mungkin ada masalah yang sudah lama dipikirkan, ada anak yang ingin kita doakan, ada utang yang ingin dilunasi, ada hati yang ingin diperbaiki, ada dosa yang ingin dimohonkan ampun, ada cita-cita akhirat yang ingin kita minta.

Jangan habiskan seluruh waktu antara adzan dan iqamah untuk melihat telepon, angkat tangan dan mintalah kepada Allah.

Menunggu Shalat Setelah Shalat Adalah Ribath

Rasulullah ﷺ menjelaskan beberapa amalan yang dapat menghapus kesalahan dan mengangkat derajat: menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan:

انْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

“Menunggu shalat setelah shalat.”

Kemudian beliau bersabda:

فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Itulah ribath.”
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang kehidupannya berputar dari satu ketaatan menuju ketaatan berikutnya.

Shalat tidak menjadi gangguan di tengah jadwalnya, justru shalatlah yang menjadi tiang jadwal kehidupannya.

Ramadhan dan Kesempatan Menghidupkan Masjid

Hubungan dengan masjid terasa semakin penting ketika memasuki bulan Ramadhan, terlebih pada sepuluh malam terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari)

Dalam hadis lain beliau mengarahkan agar mencarinya pada malam-malam ganjil, salah satu sunnah besar Rasulullah ﷺ pada masa tersebut adalah iktikaf.

Beliau mengurangi kesibukan dunia dan memusatkan hati kepada Allah, bagi yang belum mampu beriktikaf penuh, jangan kemudian kehilangan seluruh kesempatan, kita bisa mendekatinya sesuai kemampuan.

Datang lebih awal ke masjid, pulang lebih lambat, membaca Al-Qur’an setelah shalat, mengikuti majelis ilmu, berdzikir, mengerjakan shalat malam, memperbanyak doa, berdiam beberapa waktu di rumah Allah, jangan berpikir bahwa ibadah hanya bernilai ketika dilakukan sempurna, lakukan apa yang mampu kita lakukan.

Jangan Hanya Dekat dengan Masjid Ketika Ramadhan

Ada fenomena yang sering terjadi, masjid penuh pada awal Ramadhan, kemudian sedikit demi sedikit berkurang,

Setelah Idul Fitri, hubungan dengan masjid kembali seperti sebelum Ramadhan, padahal tujuan Ramadhan bukan membuat kita rajin hanya selama satu bulan, ramadhan adalah madrasah, ia melatih kita agar setelah bulan itu selesai, ada sesuatu yang berubah.

Jika sebelumnya jarang berjamaah, mulailah menjaga berjamaah, jika sebelumnya selalu datang terlambat, belajarlah datang lebih awal, jika sebelumnya selesai shalat langsung pulang, biasakan duduk beberapa menit untuk zikir, jika sebelumnya tidak pernah membaca Al-Qur’an di masjid, mulailah dengan beberapa halaman, yang dicari bukan perubahan besar dalam semalam, yang dicari adalah istiqamah.

Bagaimana Agar Hati Mulai Terpaut pada Masjid?

Kecintaan kepada masjid bisa dilatih.

Mulailah dari Shalat Berjamaah

Tidak perlu terlebih dahulu membuat target berada di masjid berjam-jam, jaga shalat berjamaah, datang ketika adzan terdengar, lakukan terus sampai menjadi bagian alami dari kehidupan.

Datang Sedikit Lebih Awal

Tambahkan sepuluh atau lima belas menit, gunakan untuk shalat sunnah, doa, atau membaca Al-Qur’an.

Jangan Langsung Pulang Setelah Salam

Selesaikan zikir, duduk sebentar, biarkan hati menikmati ketenangan yang tidak selalu ditemukan di luar.

Miliki Ibadah Khusus di Masjid

Misalnya membaca Al-Qur’an setelah Subuh atau Maghrib, ketika dilakukan terus-menerus, masjid akan memiliki tempat khusus dalam ingatan dan hati.

Kurangi Hal yang Menghalangi

Terkadang masalahnya bukan tidak punya waktu, waktu kita telah dihabiskan hal lain, televisi, media sosial, percakapan yang tidak penting, aktivitas yang sebenarnya bisa ditunda.

Jika sesuatu benar-benar kita anggap penting, biasanya kita bisa menyediakan waktu.

Penutup: Jangan Lupakan Rumah Allah

Dalam hidup ini kita memiliki banyak tempat untuk Kembali, rumah, kantor, sekolah, toko, tempat berkumpul bersama teman, namun jangan sampai hati tidak memiliki hubungan dengan rumah Allah.

Kita tidak tahu berapa banyak shalat berjamaah yang masih tersisa dalam usia kita, kita tidak tahu berapa kali lagi telinga ini akan mendengar adzan, kita tidak tahu Jumat mana yang menjadi Jumat terakhir, dan kita tidak tahu Ramadhan mana yang menjadi Ramadhan terakhir.

Maka selama Allah masih memberi kesempatan, datanglah ke masjid, jaga shalat berjamaah, bersegeralah ketika panggilan Allah terdengar, duduklah beberapa saat setelah shalat, bacalah Al-Qur’an, berdoalah, carilah majelis ilmu, dan latihlah hati agar perlahan-lahan menemukan ketenangan di sana, sampai suatu hari, ketika kita keluar dari masjid, ada bagian dari hati yang masih tertinggal di sana dan menunggu saat untuk kembali.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memakmurkan rumah-Nya, menikmati kelezatan beribadah di dalamnya, dan termasuk golongan yang disebut Rasulullah ﷺ:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ

“Seorang yang hatinya terpaut kepada masjid.”

Dan semoga Allah menaungi kita pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.

← Kembali ke semua artikel